Setiap Desember adalah menunggu. Menunggu detik yang baru karena sebentar lagi akan ada yang berganti. Januari adalah tenaga baru untuk berbuat sesuatu. Sedang di Februari, orang bilang ada segepok cinta yang minta direngkuh. Begitu juga Maret, April, Mei dan seterusnya.
Benang merahnya adalah bahwa hidup selalu berawal dari sebab lalu muncullah akibat. Hanya saja tidak mudah mengurai akar sebab dan akibat itu sendiri, Dilara. Kau mau tahu, kenapa?
Kalau kau mencintaiku, itu sebab atau akibat? Tak usah dijawab biar remuk redam sendiri pertanyaanku itu.
Kalau aku mencintaimu, itu sebab ataukah akibat? Tak usah dijawab biar remuk redam sendiri pertanyaanku itu.
Kalau kau menyayangiku, itu juga sebab atau akibat? Tak usah dijawab biar remuk redam sendiri pertanyaanku itu.
Kalau kau tiba-tiba meninggalkanku, itu sebab atau akibat? Tak usah dijawab biar remuk redam sendiri pertanyaanku itu.
Kalau tiba-tiba kau dalam posisi membenciku, itu sebab atau akibat? Tak usah dijawab biar remuk redam sendiri pertanyaanku itu.
Dan juga kalau tiba-tiba kau menyumpahi lalu mengutukku, itu sebab atau akibat? Tak usah dijawab biar remuk redam sendiri pertanyaanku itu.
Begitulah Dilara. Hidup adalah perkara sebab dan akibat. Dan Tuhan-lah yang maha tahu mana sebab mana akibat.
Tercatatlah dalam sebuah hikayat, Dilara; "Jika Tuhan menginginkan sesuatu maka Dia ciptakan sebab.." Begitu sederhana. Jadi kau tak perlu risau hati dengan apa yang terjadi. Hidup ini terlalu indah untuk kau isi dengan gundah gulana.
Terkutuklah aku bila kau masih menyimpan dendam dan perih hati karena adaku.
Kau harus terus melangkah, menjemput impianmu yang belum terwujud. Ada hal yang lebih istimewa untuk kau pungut selain aku.
Setiap sebab adalah akibat dan setiap akibat adalah juga sebab. Alam sudah lama mengajarkan itu pada kita. Konsepnya begitu sederhana. Sesuatu yang terjadi pasti disebabkan oleh sesuatu hal. Sebab mewujud karena ada akibat. Akibat ada karena sebab. Sedangkan jeda di antaranya adalah proses.
Sederhananya begini; jika kita tiba-tiba berpisah itu adalah sebab sekaligus akibat. Dan di antara keduanya terdapat proses di mana terselip cerita pahit dan manis. Semuanya nanti akan terbungkus menjadi kenangan. Suatu hari nanti di masa depan, roda selalu berputar sayang -seperti yang kau tulis diam-diam untuk malaikat penjagamu itu- kau akan tersenyum sendiri mengingatnya.
Karena setiap sebab selalu ada akibat, Dilara. Bersabarlah! Waktu itu akan tiba!
Kau tak perlu merasa bersalah dan larut dalam keputusasaan.
Dilaraku sayang, kau tentu tahu dari mana datangnya rasa bersalah, tapi tahukah kau dari mana datangnya keputusasaan? Rasa bersalah memang datang dari dalam diri dan bisa terpicu dorongan dari dalam maupun luar diri. Tapi keputusasaan punya sejarah yang rumit dan berliku. Meskipun secara sederhana keputusasaan bisa dipahami dengan suatu keadaan lenyapnya pengharapan akan terjadinya sesuatu yang didambakan.
Kau dulu pernah kehilangan pengharapan akan terjadinya sesuatu yang sudah kau impikan, yang sudah kau pikirkan akan kau peroleh, tetapi akhirnya kau tidak bisa menikmati. Lalu lenyaplah pengharapan. Itulah yang menimbulkan keputusasaan.
Kata kuncinya adalah pengharapan, sayang. Selama masih ada pengharapan, tidak seharusnya ada keputusasaan. Sayangnya pengharapanmu telah hilang bahwa suatu hari nanti Tuhan akan mempertemukan kita dalam satu biduk yang sama.
Padahal sekali lagi aku beritahu bahwa keputusasaan adalah rasa kehilangan akan pengharapan. Saat pengharapan lenyap, maka apa yang kau dambakan tidak bisa menjadi kenyataan.
Kau terlalu cepat bergerak menuju terminal akhir keputusasaan, sayang. terlalu cepat berkesimpulan. Sehingga kau dihukum oleh kesimpulanmu sendiri. Dan kau pun berputusasa. Padahal menurutku keputusasaan itu sendiri memiliki beberapa jenjang. Jenjang keputusasaan terendah sebetulnya adalah ketika kau memasuki proses kehilangan. Proses kehilangan itu kemudian melahirkan reaksi kesedihan. Lalu reaksi kesedihan mewujud dalam perasaan akan segera hilangnya sesuatu atau seseorang yang sangat bermakna bagimu.
Jenjang keputusasaan tertinggi adalah ketika kau berpangku tangan, menghiba pada nasib dan takdir lalu tak berbuat apa-apa.
Kau malah menyeret jiwa dan ragamu melompati jenjang terendah lalu memaksakan dirimu terhenti pada jenjang keputusasaan tertinggi.
Benar-benar tak ada lagi pengharapan, sayang. Kau hanya bersahabat dengan rasa apatis dan rasa untuk tidak peduli lagi. Padahal selama hembusan nafas belum berhenti, sebaiknya kau harus terus berkayuh untuk meraih asa dalam keputusasaan. Biarkan nuranimu memandu setiap langkahmu. Semoga dia tetap menyemangatimu dan memberi tenaga bagi kayuh sampanmu menuju pengharapan. Lalu, kau bergerak menujuku. Ke sini!
Pernah di suatu masa engkau berkata padaku; "Semua hanya tinggal menunggu waktu, sayang. Dan ketika waktu itu telah tiba, maka kita pun segera berpisah..".
Singkat dan padat benar kata-katamu itu Dilara. Ya, kini engkau benar-benar merasa bahwa waktumu itu telah datang hingga kau berkemas dan berlalu pergi.
Dari kejauhan aku hanya bisa menatapmu dan menghela nafas panjang. Sesaat lamanya kau melangkah, aku mohon jangan lagi menoleh ke belakang sebab aku tidak akan lagi berdiri di situ. Aku harus memilih menyembunyikan kesedihanku darimu. Berpantang bagiku menangis di hadapan wanita agung sepertimu, Dilara.
Pernah di suatu masa engkau berkata padaku; "Semua hanya tinggal menunggu waktu, sayang. Dan ketika waktu itu telah tiba, maka kita pun segera berpisah..". Padahal, beberapa hari sebelum kepergianmu atau berapa jam lagi kau akan beranjak pergi aku tak pernah tahu. Tapi apa pun itu, perjalanan dan kepergianmu sungguh penuh makna. Kepergianmu tidak hanya selembar kisah, tapi juga segubah lagu yang mengingatkan aku atau mereka yang lupa betapa bermaknanya hadirmu, Dilara.
Tawamu, nafasmu, tangismu, gerakmu telah lekat dalam jiwa. Dari kejauhan aku hanya bisa menunduk pasrah. Dulu kau pernah datang. Dulu juga kau pernah pergi. Aku tak bisa berbuat apa-apa, Dilara. Yang aku bisa hanya mencintaimu dengan datang dan pergimu itu.
Pernah di suatu masa engkau berkata padaku; "Semua hanya tinggal menunggu waktu, sayang. Dan ketika waktu itu telah tiba, maka kita pun segera berpisah..". Tapi menurutku kau salah, Dilara. Waktu tak perlu ditunggu sebab dia akan terus berdetak meski pun tak ditunggu. Justeru waktulah yang menunggumu dan aku. Dia pulalah yang memberi tahusan menunjukimu bahwa segala sesuatu, kecuali Tuhan, memiliki awal dan akhir.
Dari kejauhan aku hanya bisa berdoa, sayang. Semoga di setiap langkahmu menyelinap sejuta makna hidup yang penuh ketulusan dan kedamaian.
Pernah di suatu masa engkau berkata padaku; "Semua hanya tinggal menunggu waktu, sayang. Dan ketika waktu itu telah tiba, maka kita pun segera berpisah..".
Terima kasih telah mengingatkanku; menempaku dengan petuah mengharu biru seperti itu. Aku tak akan pernah menyalahkanmu. Justeru akulah mungkin yang salah membaca maumu. Dalam memahami aku bergerak lambat seperti siput. Padahal mungkin engkau berkehendak aku bisa lari secepat kilat membaca inginmu.
Kini, lagi dan lagi, dari kejauhan aku hanya bisa berucap lirih; Selamat berderap dengan langkahmu yang baru. Songsong duniamu nan indah seperti dulu meskipun tanpa aku.
Setiap Desember adalah menunggu. Menunggu detik yang baru karena sebentar lagi akan ada yang berganti. Januari adalah tenaga baru untuk berbuat sesuatu. Sedang di Februari, orang bilang ada segepok cinta yang minta direngkuh. Tapi sepertinya Februari ini tak ada cinta lagi untukku. Ah, sedihnya aku!
Arqan Kamaruzaman,
Minggu pertama, Januari 2010.
Thursday, February 18, 2010
Saturday, January 23, 2010
"Setiap Sebab Adalah Akibat"
etiap Desember adalah menunggu. Menunggu detik yang baru karena sebentar lagi akan ada yang berganti. Januari adalah tenaga baru untuk berbuat sesuatu. Sedang di Februari, orang bilang ada segepok cinta yang minta direngkuh. Begitu juga Maret, April, Mei dan seterusnya.
Benang merahnya adalah bahwa hidup selalu berawal dari sebab lalu muncullah akibat. Hanya saja tidak mudah mengurai akar sebab dan akibat itu sendiri, Dilara. Kau mau tahu, kenapa?
Kalau kau mencintaiku, itu sebab atau akibat?
Tak usah dijawab biar remuk redam sendiri pertanyaanku itu.
Kalau kau menyayangiku, itu juga sebab atau akibat?
Tak usah dijawab biar remuk redam sendiri pertanyaanku itu.
Kalau kau tiba-tiba meninggalkanku, itu sebab atau akibat?
Tak usah dijawab biar remuk redam sendiri pertanyaanku itu.
Kalau tiba-tiba kau dalam posisi membenci aku, itu sebab atau akibat?
Tak usah dijawab biar remuk redam sendiri pertanyaanku itu.
Dan juga kalau tiba-tiba kau menyumpahi lalu mengutukku, itu sebab atau akibat?
Tak usah dijawab biar remuk redam sendiri pertanyaanku itu.
Begitulah Dilara. Hidup adalah perkara sebab dan akibat. Dan Tuhan-lah yang maha tahu mana sebab mana akibat.
Tercatatlah dalam sebuah hikayat, Dilara; "Jika Tuhan menginginkan sesuatu maka Dia ciptakan sebab.."
Begitulah. Jadi kau tak perlu risau hati dengan apa yang terjadi. Hidup ini terlalu indah untuk kau isi dengan gundah gulana.
Terkutuklah aku bila kau masih menyimpan dendam dan perih hati karena adaku.
Kau harus terus melangkah, menjemput impianmu yang belum terwujud. Ada hal yang lebih istimewa untuk kau pungut selain aku.
Setiap sebab adalah akibat dan setiap akibat adalah juga sebab. Alam sudah lama mengajarkan itu pada kita. Konsepnya begitu sederhana. Sesuatu yang terjadi pasti disebabkan oleh sesuatu hal.
Sebab mewujud karena ada akibat. Akibat ada karena sebab. Sedangkan jeda di antaranya adalah proses.
Sederhananya begini; jika kita tiba-tiba berpisah itu adalah sebab sekaligus akibat. Dan di antara keduanya terdapat proses di mana terselip cerita pahit dan manis. Semuanya nanti akan terbungkus menjadi kenangan. Suatu hari nanti di masa depan, roda selalu berputar sayang -seperti yang kau tulis diam-diam untuk malaikat penjagamu itu- kau akan tersenyum sendiri mengingatnya.
Karena setiap sebab selalu ada akibat, Dilara. Bersabarlah! Waktu itu akan tiba!!!
Arqan Kamaruzzaman.
Hari Kedua Januari 2010
Benang merahnya adalah bahwa hidup selalu berawal dari sebab lalu muncullah akibat. Hanya saja tidak mudah mengurai akar sebab dan akibat itu sendiri, Dilara. Kau mau tahu, kenapa?
Kalau kau mencintaiku, itu sebab atau akibat?
Tak usah dijawab biar remuk redam sendiri pertanyaanku itu.
Kalau kau menyayangiku, itu juga sebab atau akibat?
Tak usah dijawab biar remuk redam sendiri pertanyaanku itu.
Kalau kau tiba-tiba meninggalkanku, itu sebab atau akibat?
Tak usah dijawab biar remuk redam sendiri pertanyaanku itu.
Kalau tiba-tiba kau dalam posisi membenci aku, itu sebab atau akibat?
Tak usah dijawab biar remuk redam sendiri pertanyaanku itu.
Dan juga kalau tiba-tiba kau menyumpahi lalu mengutukku, itu sebab atau akibat?
Tak usah dijawab biar remuk redam sendiri pertanyaanku itu.
Begitulah Dilara. Hidup adalah perkara sebab dan akibat. Dan Tuhan-lah yang maha tahu mana sebab mana akibat.
Tercatatlah dalam sebuah hikayat, Dilara; "Jika Tuhan menginginkan sesuatu maka Dia ciptakan sebab.."
Begitulah. Jadi kau tak perlu risau hati dengan apa yang terjadi. Hidup ini terlalu indah untuk kau isi dengan gundah gulana.
Terkutuklah aku bila kau masih menyimpan dendam dan perih hati karena adaku.
Kau harus terus melangkah, menjemput impianmu yang belum terwujud. Ada hal yang lebih istimewa untuk kau pungut selain aku.
Setiap sebab adalah akibat dan setiap akibat adalah juga sebab. Alam sudah lama mengajarkan itu pada kita. Konsepnya begitu sederhana. Sesuatu yang terjadi pasti disebabkan oleh sesuatu hal.
Sebab mewujud karena ada akibat. Akibat ada karena sebab. Sedangkan jeda di antaranya adalah proses.
Sederhananya begini; jika kita tiba-tiba berpisah itu adalah sebab sekaligus akibat. Dan di antara keduanya terdapat proses di mana terselip cerita pahit dan manis. Semuanya nanti akan terbungkus menjadi kenangan. Suatu hari nanti di masa depan, roda selalu berputar sayang -seperti yang kau tulis diam-diam untuk malaikat penjagamu itu- kau akan tersenyum sendiri mengingatnya.
Karena setiap sebab selalu ada akibat, Dilara. Bersabarlah! Waktu itu akan tiba!!!
Arqan Kamaruzzaman.
Hari Kedua Januari 2010
Sunday, October 4, 2009
"bumi bergetar untuk kita.."
Di Padang, Di Jambi, di Bengkulu, di Garut, di Gorontalo, di Papua, bumi bergetar untuk kita... Nara..
Di Padang, Di Jambi, di Bengkulu, di Garut, di Gorontalo, di Papua, bumi bergoyang untuk kita... Nara..
Di Padang, Di Jambi, di Bengkulu, di Garut, di Gorontalo, di Papua, bumi berdansa untuk kita... Nara..
Lalu seketika banyak yang terhenyak menangis dalam duka...
Kita bisa apa untuk mereka, Nara?
Ah..
Kalaupun tidak materi, bisakah sejumput doa kita beri?
"Teruntuk saudara-saudara korban Bencana Gempa Sumatera"
Oktober 2009
Di Padang, Di Jambi, di Bengkulu, di Garut, di Gorontalo, di Papua, bumi bergoyang untuk kita... Nara..
Di Padang, Di Jambi, di Bengkulu, di Garut, di Gorontalo, di Papua, bumi berdansa untuk kita... Nara..
Lalu seketika banyak yang terhenyak menangis dalam duka...
Kita bisa apa untuk mereka, Nara?
Ah..
Kalaupun tidak materi, bisakah sejumput doa kita beri?
"Teruntuk saudara-saudara korban Bencana Gempa Sumatera"
Oktober 2009
Thursday, May 7, 2009
"Sebab itu Aku Menginginkanmu Nara.."
Yang menangis adalah yang berpunya. Yang berpunya adalah yang kehilangan. Yang kehilangan adalah mereka yang ingin.” kata Ki Ageng Suryomentaram, seorang Pangeran Jogja, pada suatu masa saat ia meninggalkan istana. Nah Nara, jika aku adalah yang berpunya maka yang aku punya buatmu hanyalah sebentuk CINTA. Dan itu untuk dulu, kini dan esok. Ya, Cinta dan hanya Cinta.
Kalau ku ingat-ingat lagi kata-kata Ki Ageng itu maka wajar jika aku menangis saat ini. Sebab yang menangis adalah yang berpunya. Dan yang aku punya hanya Cinta. Maka aku, yang berpunya Cinta itu, adalah yang kehilangan. Lalu aku, yang kehilangan Cinta, tak lain karena aku ingin. Aku menginginkan kau, Nara. Dan semua karena Cinta.
Jangan pula kau berucap bahwa bisa apa kau nanti dengan Cintaku itu? Cinta memang tidak akan mengenyangkan laparmu. Cinta juga tidak akan menghapus haus dahagamu. Tapi Cintaku ini berbungkus ketulusan, sayang. Dan dengannya kau akan membuat kenyang lapar jiwamu dan mengikis habis dahaga jiwamu.
Maka wajar 'kan jika aku menangisi kehilanganmu? menangisi setiap jengkal kenangan kita? Sebab aku adalah yang berpunya Cinta dan bisa kapan saja kehilangan Cinta maka sebab itulah aku menginginkanmu Nara!
Arqan Kamaruzzaman, di pangkal Mei.
Copyrights are subjected to Masnur Marzuki
Kalau ku ingat-ingat lagi kata-kata Ki Ageng itu maka wajar jika aku menangis saat ini. Sebab yang menangis adalah yang berpunya. Dan yang aku punya hanya Cinta. Maka aku, yang berpunya Cinta itu, adalah yang kehilangan. Lalu aku, yang kehilangan Cinta, tak lain karena aku ingin. Aku menginginkan kau, Nara. Dan semua karena Cinta.
Jangan pula kau berucap bahwa bisa apa kau nanti dengan Cintaku itu? Cinta memang tidak akan mengenyangkan laparmu. Cinta juga tidak akan menghapus haus dahagamu. Tapi Cintaku ini berbungkus ketulusan, sayang. Dan dengannya kau akan membuat kenyang lapar jiwamu dan mengikis habis dahaga jiwamu.
Maka wajar 'kan jika aku menangisi kehilanganmu? menangisi setiap jengkal kenangan kita? Sebab aku adalah yang berpunya Cinta dan bisa kapan saja kehilangan Cinta maka sebab itulah aku menginginkanmu Nara!
Arqan Kamaruzzaman, di pangkal Mei.
Copyrights are subjected to Masnur Marzuki
Thursday, April 30, 2009
[Lagi, Soal Nara]
Dilara, kau sedang apa? Jakarta masih beraroma basah setelah hujan turun deras sekali tadi pagi. Badanku pun sepertinya tak cukup asupan tidur hingga muka menjadi pucat pasi. Mungkin lantaran terlambat naik ke dipan semalam. Kemarin malam bersama seorang teman aku pergi menonton pertunjukan Teater Padhang Bulan di Taman Ismail Marzuki. Pementasnya Emha Ainun Nadjib dan kawan-kawan.
Entah kenapa tiba-tiba aku teringat kata-kata Emha dalam pementasan yang amat menyentuh itu:
"Kekasih sejati memiliki keluasan jiwa, kelonggaran mental, dan kecerdasan pikiran untuk selalu melihat sisi baik dari kepribadian dan perilaku kekasihnya. Prasangka baik dan kesiagaan bersyukur selalu menjadi kuda-kuda utama penyikapannya terhadap pihak yang dikasihinya. Kekasih sejati tidak memelihara kesenangan untuk menemukan kesalahan kekasihnya, apalagi memperkatakannya. Kegagalan kekasihnya selalu dimafhuminya, kesalahan kekasihnya selalu pada akhirnya ia maafkan."
Aku harus mengakui bahwa apa yang dikatakan Emha itu ada benarnya, Dilara. Aku jatuh cinta pada Nara. Tapi aku tidak tahu apakah dia membalas cintaku. Toh kalau pun cintaku ini bertepuk sebelah tangan aku masih bisa mengatakan bahwa aku ini bisa menjadi sang kekasih. Dan aku betul-betul merasakan apa yang dikatakan Emha di atas. Aku selalu berprasangka baik pada Nara. Berpikir bahwa ketidak-sediaan Nara menjawab pintaku waktu itu hanya soal momen dan kesempatan. Toh ia pernah berjanji akan membalas kunjunganku suatu hari nanti. Dan aku kan setia menanti.
Kau pasti belum kenal betul siapa itu Nara 'kan Dilara? Jujur, banyak hal yang membuatku selalu mengingat Nara.
Pintar, puitis, romantis, sungai Naryn, Kyrgystan, Yogyakarta, Indomie, a-mild, clinique happy for men, "cicak didinding"-ya Dee, Pramudya, kaos biru university of melbourne, bantal hati warna biru, hujan, taxi bluebird, Plaza Semanggi, Pengacara, Salak pondoh, Soe Hoek Gie, "enyak...enyaK..enyak...", Friendster, facebook, kodok...(hehe), deasy, "baby, don't you break my heart slow"-nya vonda shepard, "love song" 311, "seperated" usher, "unintended" muse, radio biru blue sky, bandara soekarno-hatta, MC Cafe thamrin, Ramadhan, wanna dance?
Semua yang aku lihat, dengar dan rasa sungguh mengingatkanku padanya.
Tapi ada yang salah dengan diriku saat ini Dilara. Bagiku saat ini hal ikhwal keinginan mencintai Nara adalah sebuah paham dan opini yang sudah terpatri di hati. Dan bodohnya lagi aku justeru tersiksa oleh opiniku tentang hal ikhwal itu dan bukan oleh hal ikhwal itu sendiri. Seperti yang dikatakan oleh Descartes dulu sekali Dilara; orang selalu tersiksa oleh opininya tentang hal ikhwal, bukan oleh hal ikhwal itu sendiri.
Ada opini yang beragam muncul di benak-ku dengan apa yang dipikirkan Nara saat pertama kali aku hendak mengatakan bahwa aku jatuh hati padanya. Nara mungkin kecewa kenapa aku sebodoh itu dan tergesa-gesa mengungkapkan perasaan padahal kenal dekat pun belum. Nara mungkin juga bingung akan diapakan perasaanku ini. Dan aku tidak tahu persis mana yang sedang dipikirkan Nara saat ini. Dan aku betul-betul tersiksa oleh opiniku tentang apa yang bakal dan sedang dilakukan Nara terhadap perasaanku itu. Kau bersedia membantuku Dilara?
Kenapa diam Dilara? Kau marah sebab aku mulai mengabaikanmu? Kau kesal karena aku hanya dan selalu mengingat Nara? Nara itu belum pasti menerimaku, sayang. Tak ada yang pasti dalam hidup ini kecuali ketidakpastian itu sendiri, bukan?
Kau pernah bilang padaku bahwa kau akan cemburu jika ada satu saja perempuan yang menaruh hati padaku atau aku yang menaruh hati padanya. Ternyata kau tidak hanya romantis Dilara, tapi juga pencemburu. Dan kini kau sedang cemburu pada Nara padahal kau tak tahu apa yang sesungguhnya sedang terjadi antara aku dan Nara.
Nara itu gadis pendiam, Dilara. Tak banyak kata-kata yang keluar dari mulutnya. Mungkin sikap pendiamnya itu banyak diilhami dari hobinya memanjat tebing. Dulu saat aku di Kyrgystan Nara menunjukkan padaku sekian gunung dan tebing yang sudah dia daki. Katanya seorang pendaki atau pemanjat handal harus menjadikan pendiam itu sebagai guru sekaligus kawan. Sebab, diam itulah yang akan mengajarkan bagaimana cara berpikir cepat, mengambil keputusan serta mengalahkan rasa takut.
"Kalau aku bosan dengan suasana sidang pengadilan, maka panjat tebing adalah pelarian paling mengesankan.." katanya suatu ketika padaku. Aku sempat protes waktu itu. Bagaimana mungkin seorang pengacara seperti Nara bisa mewujud menjadi gadis pendiam? Bukankah banyak omong adalah satu dari sekian keahlian dan ciri dari seorang lawyer?
Kini aku makin larut dalam ingatanku pada Nara. Nara. Nara. Nara dan Nara. Kau pasti pernah mengalami hal yang sama 'kan Dilara? Kau pernah linglung saking kangennya kau padaku. Kau malah menuduhku memakai guna-guna waktu itu. Ya, kau benar sayang. Aku taruh guna-guna itu di setiap sudut telinga, mata, mulut dan hidungmu. Ku taruh di sepasang telingamu agar setiap kabar yang kau dengar adalah kabar tentangku. Ku letakkan di matamu agar setiap laki-laki yang kau jumpai yang terlihat hanya wajahku. Ku taruh di mulutmu agar setiap kata yang sebut adalah namaku. Ku taruh di hidungmu agar setiap aroma yang kau cium adalah aroma tubuhku. Bukankah begitu, sayang..?
Dan tahukah kau Dilara? Itulah yang aku rasakan saat ini tentang Nara. Sepertinya aku juga diguna-guna oleh Nara.. Semoga saja. Alangkah senangnya hatiku.
Arqan Kamaruzzaman
Entah kenapa tiba-tiba aku teringat kata-kata Emha dalam pementasan yang amat menyentuh itu:
"Kekasih sejati memiliki keluasan jiwa, kelonggaran mental, dan kecerdasan pikiran untuk selalu melihat sisi baik dari kepribadian dan perilaku kekasihnya. Prasangka baik dan kesiagaan bersyukur selalu menjadi kuda-kuda utama penyikapannya terhadap pihak yang dikasihinya. Kekasih sejati tidak memelihara kesenangan untuk menemukan kesalahan kekasihnya, apalagi memperkatakannya. Kegagalan kekasihnya selalu dimafhuminya, kesalahan kekasihnya selalu pada akhirnya ia maafkan."
Aku harus mengakui bahwa apa yang dikatakan Emha itu ada benarnya, Dilara. Aku jatuh cinta pada Nara. Tapi aku tidak tahu apakah dia membalas cintaku. Toh kalau pun cintaku ini bertepuk sebelah tangan aku masih bisa mengatakan bahwa aku ini bisa menjadi sang kekasih. Dan aku betul-betul merasakan apa yang dikatakan Emha di atas. Aku selalu berprasangka baik pada Nara. Berpikir bahwa ketidak-sediaan Nara menjawab pintaku waktu itu hanya soal momen dan kesempatan. Toh ia pernah berjanji akan membalas kunjunganku suatu hari nanti. Dan aku kan setia menanti.
Kau pasti belum kenal betul siapa itu Nara 'kan Dilara? Jujur, banyak hal yang membuatku selalu mengingat Nara.
Pintar, puitis, romantis, sungai Naryn, Kyrgystan, Yogyakarta, Indomie, a-mild, clinique happy for men, "cicak didinding"-ya Dee, Pramudya, kaos biru university of melbourne, bantal hati warna biru, hujan, taxi bluebird, Plaza Semanggi, Pengacara, Salak pondoh, Soe Hoek Gie, "enyak...enyaK..enyak...", Friendster, facebook, kodok...(hehe), deasy, "baby, don't you break my heart slow"-nya vonda shepard, "love song" 311, "seperated" usher, "unintended" muse, radio biru blue sky, bandara soekarno-hatta, MC Cafe thamrin, Ramadhan, wanna dance?
Semua yang aku lihat, dengar dan rasa sungguh mengingatkanku padanya.
Tapi ada yang salah dengan diriku saat ini Dilara. Bagiku saat ini hal ikhwal keinginan mencintai Nara adalah sebuah paham dan opini yang sudah terpatri di hati. Dan bodohnya lagi aku justeru tersiksa oleh opiniku tentang hal ikhwal itu dan bukan oleh hal ikhwal itu sendiri. Seperti yang dikatakan oleh Descartes dulu sekali Dilara; orang selalu tersiksa oleh opininya tentang hal ikhwal, bukan oleh hal ikhwal itu sendiri.
Ada opini yang beragam muncul di benak-ku dengan apa yang dipikirkan Nara saat pertama kali aku hendak mengatakan bahwa aku jatuh hati padanya. Nara mungkin kecewa kenapa aku sebodoh itu dan tergesa-gesa mengungkapkan perasaan padahal kenal dekat pun belum. Nara mungkin juga bingung akan diapakan perasaanku ini. Dan aku tidak tahu persis mana yang sedang dipikirkan Nara saat ini. Dan aku betul-betul tersiksa oleh opiniku tentang apa yang bakal dan sedang dilakukan Nara terhadap perasaanku itu. Kau bersedia membantuku Dilara?
Kenapa diam Dilara? Kau marah sebab aku mulai mengabaikanmu? Kau kesal karena aku hanya dan selalu mengingat Nara? Nara itu belum pasti menerimaku, sayang. Tak ada yang pasti dalam hidup ini kecuali ketidakpastian itu sendiri, bukan?
Kau pernah bilang padaku bahwa kau akan cemburu jika ada satu saja perempuan yang menaruh hati padaku atau aku yang menaruh hati padanya. Ternyata kau tidak hanya romantis Dilara, tapi juga pencemburu. Dan kini kau sedang cemburu pada Nara padahal kau tak tahu apa yang sesungguhnya sedang terjadi antara aku dan Nara.
Nara itu gadis pendiam, Dilara. Tak banyak kata-kata yang keluar dari mulutnya. Mungkin sikap pendiamnya itu banyak diilhami dari hobinya memanjat tebing. Dulu saat aku di Kyrgystan Nara menunjukkan padaku sekian gunung dan tebing yang sudah dia daki. Katanya seorang pendaki atau pemanjat handal harus menjadikan pendiam itu sebagai guru sekaligus kawan. Sebab, diam itulah yang akan mengajarkan bagaimana cara berpikir cepat, mengambil keputusan serta mengalahkan rasa takut.
"Kalau aku bosan dengan suasana sidang pengadilan, maka panjat tebing adalah pelarian paling mengesankan.." katanya suatu ketika padaku. Aku sempat protes waktu itu. Bagaimana mungkin seorang pengacara seperti Nara bisa mewujud menjadi gadis pendiam? Bukankah banyak omong adalah satu dari sekian keahlian dan ciri dari seorang lawyer?
Kini aku makin larut dalam ingatanku pada Nara. Nara. Nara. Nara dan Nara. Kau pasti pernah mengalami hal yang sama 'kan Dilara? Kau pernah linglung saking kangennya kau padaku. Kau malah menuduhku memakai guna-guna waktu itu. Ya, kau benar sayang. Aku taruh guna-guna itu di setiap sudut telinga, mata, mulut dan hidungmu. Ku taruh di sepasang telingamu agar setiap kabar yang kau dengar adalah kabar tentangku. Ku letakkan di matamu agar setiap laki-laki yang kau jumpai yang terlihat hanya wajahku. Ku taruh di mulutmu agar setiap kata yang sebut adalah namaku. Ku taruh di hidungmu agar setiap aroma yang kau cium adalah aroma tubuhku. Bukankah begitu, sayang..?
Dan tahukah kau Dilara? Itulah yang aku rasakan saat ini tentang Nara. Sepertinya aku juga diguna-guna oleh Nara.. Semoga saja. Alangkah senangnya hatiku.
Arqan Kamaruzzaman
Subscribe to:
Posts (Atom)