Tuesday, April 10, 2007
Tuesday, April 3, 2007
Tanpa Judul (Sajak)

Kategori: Sajak
Judul: Belum ada
Dibuat oleh: Saya
Tempat di buat: Bumi
Ditujukan: Siapa saja
Sebongkah bara yang ku tanam..
Telah terhangatkan karena dendam..
Kepada kalian tetua adat sialan..
Yang merasa lebih bijak dari Tuhan..
Lima tahun sudah ku kemas pemberontakan ini..
Sudah saatnya aku menepuk dada..
Mengacungkan sepuluh jari..
Pertanda aku bukan anak kecil lagi..
Bersiaplah kalian orang-orang tua..
Akan ada segerombolan pasukan muda..
Menggilas keserakahan kalian dengan segera..
Jangan tunggu aku di perbatasan..
Sebab aku ada di barisan terdepan..
Merubah setiap kepongahan tradisi..
Menyulapnya agar tak lagi jadi kitab suci..
Melbourne, 19 Maret 2007.
Di Tepi Sungai Yarra sehabis gelap.
Dibuat oleh: Saya
Tempat di buat: Bumi
Ditujukan: Siapa saja
Sebongkah bara yang ku tanam..
Telah terhangatkan karena dendam..
Kepada kalian tetua adat sialan..
Yang merasa lebih bijak dari Tuhan..
Lima tahun sudah ku kemas pemberontakan ini..
Sudah saatnya aku menepuk dada..
Mengacungkan sepuluh jari..
Pertanda aku bukan anak kecil lagi..
Bersiaplah kalian orang-orang tua..
Akan ada segerombolan pasukan muda..
Menggilas keserakahan kalian dengan segera..
Jangan tunggu aku di perbatasan..
Sebab aku ada di barisan terdepan..
Merubah setiap kepongahan tradisi..
Menyulapnya agar tak lagi jadi kitab suci..
Melbourne, 19 Maret 2007.
Di Tepi Sungai Yarra sehabis gelap.
Sunday, April 1, 2007
"Di manakah kau, ratu adil?"
Wednesday, March 28, 2007
"Ya, aku telah pulang, sayang....."

Kota itu terletak sebelah Barat Daya Melbourne, Australia. Ia begitu mempesona bukan saja kerena ketuaannya namun lebih pada masa "keemasan" sejarah lampaunya. Emas di mana-mana seperti gumpalan awan di musim panas. Dari dulu hingga sekarang, sama saja, tetap mempesona. Ballarat. Namanya diambil dari kosa kata suku Aborigin "Ballaarat" yang bermakna tempat istirahat.
Di kota itulah aku tinggal menghabiskan sisa umurku. Lana, begitu orang memanggilku. Dengan umur 109 tahun, aku tidak lagi bisa menjalankan semua aktifitas harian tanpa bantuan orang lain. Tapi aku lebih suka melakukannya sendirian. Menyiram tanaman, memberi makan kuda dan "Mosh" kucing kesayanganku. Orang mungkin tidak menyangka, janda sepertiku akan bertahan hidup selama itu. Tapi Ballarat adalah tempat istirahat dan aku merasa nyaman hingga aku bisa lebih lama membaca hidup dan bertahan di atasnya.
Aku dulunya isteri dari seorang penambang emas. Suamiku, Reid Lambert dibayar dengan gaji amat rendah, namun kami hidup sejahtera membesarkan Lambert Junior putera kami satu-satunya.
Dua laki-laki itu begitu mencintaiku. Pernah suatu ketika di musim dingin Reid membisikkan sesuatu di telingaku.
Dua laki-laki itu begitu mencintaiku. Pernah suatu ketika di musim dingin Reid membisikkan sesuatu di telingaku.
"Nanti, saat kematian membekap raga, kami akan tetap hidup di sini. Di hatimu, Lana." Ia letakkan jari telunjukkan di dadaku. Aku tersentuh. "Dan, tahukah kau bahwa kami akan mengunjungimu suatu masa di mana kau benar-benar merindukan kami."
Hidup memang aneh. Ia memiliki epispode-episode tak terbaca dan liar. Suka dan duka adalah dua sisi mata uang. Dan disitulah ia membundar, menggelinding tanpa tahu tempat pemberhentian yang terakhir. Rasanya aku tak akan kan bisa lagi melanjutkan hidup terutama setelah suamiku tewas di tangan sipir dalam penjara politik. Ia ditangkap sebab memberontak menuntut haknya bersama ribuan buruh penambang emas. Hak atas bayaran yang layak dan persamaan hak. Namun aku sadar, proses memanusiakan manusia kadang butuh pengorbanan. Dan aku bangga padanya. Untuk itu aku lebih suka memanggil Reid sebagai pahlawan sebab memang ia lah pahlawanku dan juga anak-anakku. Lebih dari itu, ia hanyalah seorang suami yang baik hati.
Kematian suamiku akhirnya dapat ku terima setelah Lambert tumbuh dari bayi yang lucu menjadi bocah laki-laki yang cekatan. Ia begitu mirip suamiku. Rambutnya yang hitam dan sepasang kaki yang kokoh. Aku pun masih ingat di tahun 1894 saat bencana menyerang daerah pertambangan emas ini. Lambert, yang dalam dirinya aku temukan suamiku, turut menjadi satu dari sekian anak-anak yang meninggal diserang wabah ganas Malaria. Saat itulah aku merasa habis. Hidup hanya menghitung waktu kapan pagi datang dan senja menjelang.
Kematian suamiku akhirnya dapat ku terima setelah Lambert tumbuh dari bayi yang lucu menjadi bocah laki-laki yang cekatan. Ia begitu mirip suamiku. Rambutnya yang hitam dan sepasang kaki yang kokoh. Aku pun masih ingat di tahun 1894 saat bencana menyerang daerah pertambangan emas ini. Lambert, yang dalam dirinya aku temukan suamiku, turut menjadi satu dari sekian anak-anak yang meninggal diserang wabah ganas Malaria. Saat itulah aku merasa habis. Hidup hanya menghitung waktu kapan pagi datang dan senja menjelang.
Ketuaanku "dimanfaatkan" dewan kota Ballarat sebagai asset wisata termashur kota ini. Kota ini disulap sedemikian rupa hingga kesan tuanya tetap terjaga. Mungkin karena itu juga kenapa aku diminta tetap tinggal di sini. Rumahku di pugar sebab ia memang terletak persis di tengah pusat pertambangan emas. Setiap hari ragam pengunjung menikmati ketuaan aku dan kota ini. Semua barang-barang peninggalan suamiku seperti magnet yang menyedot peratian banyak orang yang cinta sejarah. Koleksi alat-alat tambang miliknya yang masih tertata rapi di sudut ruangan rumahku itulah alasannya.
Bagi mereka pecinta serial detektif The Adventures of Sherlock Holmes, maka Ballarat mungkin bukan lagi sesuatu yang asing. Sebab si pengarang, Arthur Conan Doyle, pernah memuat satu seri tentang kota ini. Dengan settingan tahun 1888, "The Boscombe Valley Mystery" itulah Ballarat ditampilkan begitu misterius dan penuh lika-liku.
Membaca ceritanya Arthur terus menyeret aku ke masa-masa dulu saat hidup begitu sempurna. Ada suara parau suamiku dan gelak tawa Lambert. Ingin aku kembali ke masa itu. Seonggok cinta yang ku temukan di kota tambang ini. Di sanalah masa "keemasan" hidup yang berlimpah kebahagiaan.
Siang ini, seperti biasa aku lebih suka mengurung diri berlindung di bawah terik panas matahari. Beberapa pengunjung masih terlihat di mana-mana termasuk di dalam rumah. Mereka, produk zaman modern ternyata juga mencintai masa lalu. Aku pun sibuk menjawab pertanyaan seputar kota ini dan sejarahnya. Di kerumanan pengunjung itu, telingaku menangkap sesuatu yang tak asing. Suara parau dan gelak tawa setengah melengking. Aku berlari ke dapur mengejar asal suara itu.
"Lambert?"
"Reid?"
"Reid?"
"Kaukah itu?"
Aku setengah berteriak memanggil mereka, tapi tak ada siapa-siapa di dapur. Hanya jejak dua pasang sepatu. Aku menangis. Meratapi kebodohanku. "Bisa jadi ini hanyalah jejak biasa yang sering ditinggalkan pengunjung atua para pelancong." aku berbisik sendiri.
Aku termangu di bibir ruang dapur, menyeka air mata. Dalam termanguku, dari dalam bilik tidur aku mendengar lagi suara parau dan gelak tawa setengah melengking. Kali ini amat jelas dan sangat akrab di telingaku. Aku kembali berlari menuju kamar. Sebagian pengunjung melihat keheranan kepadaku. Di atas tempat tidur aku tak menemukan siapa-siapa. Aku mencari-cari kalau-kalau mereka sembunyi di bawah tidur. Cepat-cepat aku periksa. Kosong. Tak ada siapa-siapa. Aku menyerah. Namun tiba-tiba sudut mataku menangkap cahaya kilau kuning keemasan dari bawah tempat tidur. Aku menangis sejadi-jadinya, saat aku lihat butiran emas membentuk dua nama tertulis rapi.
Aku termangu di bibir ruang dapur, menyeka air mata. Dalam termanguku, dari dalam bilik tidur aku mendengar lagi suara parau dan gelak tawa setengah melengking. Kali ini amat jelas dan sangat akrab di telingaku. Aku kembali berlari menuju kamar. Sebagian pengunjung melihat keheranan kepadaku. Di atas tempat tidur aku tak menemukan siapa-siapa. Aku mencari-cari kalau-kalau mereka sembunyi di bawah tidur. Cepat-cepat aku periksa. Kosong. Tak ada siapa-siapa. Aku menyerah. Namun tiba-tiba sudut mataku menangkap cahaya kilau kuning keemasan dari bawah tempat tidur. Aku menangis sejadi-jadinya, saat aku lihat butiran emas membentuk dua nama tertulis rapi.
"Reid and Lambert"
Setengah percaya aku usap-usap kedua mataku.
"Mata tuaku mungkin yang salah" ucapku seketika. Tapi aku tidak keliru. Di bawah nama itu kini malah tersusun satu kalimat.
"Lana, here we're with you".
Aku terkesima, darah ku terkesiap. Aku merasa tenggorokan tersekat. Tercekik. Aku terjatuh. Lalu tak sadarkan diri.
Pada sore harinya. Kami bertiga berjalan beriringan. Menikmati senja yang mulai datang. Orang masih ramai mengikuti sebuah acara pemakaman. Gerimis senja makin pekat di antara orang-orang yang berpakaian serba hitam. Aku melihat peti jenazahku diangkut beramai-ramai petugas museum. Di kerumunan pelayat itu, aku saksikan takzim warga kota akan sejarah dan masa lalu aku dan kota ini.
Lambert menoleh padaku. Tersenyum.
"Selamat berjumpa lagi, sayang." "Mari pulang, hari sudah petang.. Seperti nama kota ini, sudah saatnya kau beristirahat."
Aku kalungkan tanganku dipundaknya.
"Ya, aku telah pulang, sayang....."
=======
Sebagian besar dari cerita ini pernah diterbitkan di Tabloid BUSET di Melbourne.
Sebagian besar dari cerita ini pernah diterbitkan di Tabloid BUSET di Melbourne.
Friday, March 23, 2007
"Metamorfosa Indomelb dan Pak Lurah Yang Belum Ber'BuLu"
source: multiply-nya kang adeuMungkin hari ini kita membuat sejarah, dan menyaksikan Indomelb bermetamorfosa. Sudah lama kita punya rumah dan sudah lama pula rumah itu kita singgahi, kita ramaikan dengan pelbagai sorak-sorai, tingkah pola dan kekonyolan. Bersyukur pada Tuhan, kini kita sudah pula punya lurah, tempat kita menyandarkan banyak harapan. Lagu asa yang dibalut semangat kebersamaan itu telah kita dengarkan lantunannya di sini. Ada kawan-kawan yang merekam setiap momen dalam bentuk gambar tak bergerak -baca: warkop photografi-, ada yang resah dengan jodoh antah berantah -terutama lurah baru-, ada yang berkeluh kesah -baca:curhat-, bahkan sumpah serapah -no comment deh buat yang satu ini. Namun itulah bumbunya dan pada lurah baru itulah tempat kita merengek minta dimanja.
Bagi saya Indomelb adalah sebuah melankoli. Betapa tidak, Indomelb adalah tempat saya memijar kepenatan kuliah dengan senyuman, canda dan tawa. Belajar tentang makna pertemanan. Setuju ataupun tidak, bagi saya berteman seperti meretas jalan menuju kearifan. Sebab dari sanalah saya sadar betapa mustahilnya saya menjadi manusia egois yang merasa tak butuh orang lain. Sungguh, di atas makna pertemanan itulah saya menjadi lebih sempurna menjadi manusia.
Kita memang tidak akan selamanya di sini, karena Melbourne bagi kita hanya semacam pelabuhan sementara. Kita sementara tinggal dan hidup di sini demi -tentu saja- kehidupan yang lebih baik. Jika Melbourne tempat sementara melabuh, maka tidak begitu dengan Indomelb. Ia sudah menjadi semacam gambar rumah yang ditatap dengan keyakinan, dikonsep dengan keberagaman serta dipaku dengan semangat kekeluargaan. Dan di sana, saya berani berucap bahwa di sini kita tidak akan pernah merasa asing. Ia begitu ramah menyapa kita setiap saat dengan canda dan senyum terkulum.
Begitulah. Sesuatu telah berubah, memang. Kita sadar dan tahu itu. Saya tak akan mengatakan hal yang baru jika saya menuliskan ucapan selamat bertugas dan mengemban amanah buat lurah baru tercinta (Mode background walting matzilda song On). Tapi apa mau dikata. Tak selamanya kita bisa berjalan tanpa merasa butuh pemimpin baru. Meski hanya sedikit yang merasa perlu untuk itu, namun penghormatan buat mereka yang peduli layak kita sematkan. Kita angkat topi dengan semangat mereka. Terima kasih kawan...
Kembali ke lap top (Mode Tukul Fans Club On)
Indomelb --yang sebenarnya berisi keragaman tak tepermanai, beranggotakan manusia-manusia jenius yang rumit-- telah pula kita lengkapi dengan perkakas baru. Pak Lurah. Saya jadi ingat sesuatu. Kata sepadan yang sering menemani kata "Pak" tentu adalah "Bu". Saya jadi ingat lurah saya di kampung halaman. Kemana saja beliau selalu ditemani seorang perempuan yang biasa kami panggil "BuLu" alias Bu Lurah. Tapi beliau tidak pernah marah meski kita panggil dengan sebutan "BuLu". Toh ia memang seorang Bu Lurah. Tapi lurah saya yang baru di Indomelb sayang sekali belum punya "BuLu". Hei.. jangan berpikiran yang aneh-aneh dulu. Lurah kita sudah dewasa, tentu dia butuh seorang "BuLu". Untuk itu mari kita sambut Pak Lurah baru kita dengan menengedahkan tangan sambil berdoa. "Semoga segera menemukan "BuLu", Pak Lurah." Tentu dengan semangat baru karena Laler pun tidak pernah lupa kata "bulu". :) He he he.. Laler berbulu ngk sih? Au ah, gelap...
Ah sudahlah. Musim gugur sudah akan datang. Saya tutup saja catatan ini. Tak lupa pula saya ucapkan: "Dengan atau tanpa BuLu, Selamat Berlayar kapiten!!!.
Carlton, 24 Maret 2007.
Subscribe to:
Posts (Atom)

