Kaku, aku duduk di kursi pesakitan pesawat berbadan lebar ini, Dilara. Kau tahu 'kan aku paling benci ketinggian. Meski di ufuk barat sana kuas senja menggoreskan warna merah keemasan, pemandangan indah itu tak jua membuatku tenang. Tetap saja aku gugup. Kaku seperti salju. Aku beranikan diri terbang berjam-jam lamanya. Ini semua karena pilihanku untuk berbelah-pihak pada hasrat hati yang ingin segera menyudahi satu resah. Ya, semuanya tentang rindu dan itu buatmu Dilara.
Senja makin mengapung pada bibir awan yang menghampar. Saat itulah aku aku melihat bulan yang hendak jatuh. Jatuh kemana ia malam ini Dilara? Jikalau ia jatuh di dekatmu, seharusnya ia membawa hikayat tentang bujang kota yang merana karena rindu. Atau paling tidak bulan itu mengabarkan tentang mimpi yang hendak ku kejar bersamamu. Terngiang olehku petuah bunda suatu hari; "Meminjam memulangkan, menjemput mengantarkan". Dulu pernah kau pinjamkan rindu itu, nah kini aku bermaksud datang untuk memulangkannya. Dulu pula, cintamu pernah ku jemput, hmm.. tapi tak hendak aku mengantarkannya. Biarkan ia memaku diri di sini, bersemayam dalam indah mimpi kita, Dilara.
Bulan itu jatuh kemana malam ini Dilara? Kalau ia jatuh di dekatmu, sudah sepantasnya ia berbagi cerita tentang penat menyudahi kembara ini. Aku lelah. Ingin segera dekat-dekat denganmu. Kau tahu jatuh kemana bulan itu Dilara? Dan kalau pun ia jatuh saat kau terlelap, bias cahayanya akan menerangkan mimpimu menuju aku. Mari berbaringlah di dekatku, Dilara. Kau tahu 'kan aku sedang di mana. Ya, aku bersemayam di sebuah negeri di atas awan. Dari sini bulan itu hendak jatuh ke hariban. Indah, seperti elok rupamu.
Jatuh kemana bulan itu malam ini Dilara? Cepat-cepatlah kau terbangun agar kau bisa membaca pesan yang ku titipkan padanya. Bersandarlah padanya. Lalu di situ akan ada aku yang hanya memulangkan rindu dan hendak mengantarkan cinta yang terseduh sejak lama. Aku cinta kau, Dilara.
Kemana bulan itu jatuh Dilara? Andai ia bertali akan ku sodorkan padamu sumbunya agar dapat kau tembatkan ia hingga saat aku tiba nanti. Dan kita bisa melihatnya bersama. Kau benar Dilara; Jika berkaca pada rindu maka hari-harimu begitu singkat. Seperti terhukum menghitung detik nadi di tiang gantungan. Mataku mulai basah, Dilara. Melihat bulan yang hendak jatuh. Semoga kau melihatnya dalam cinta.
Di atas langit, 29 Oktober 2007.
Arqan Kamaruzzaman.
Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Friday, November 2, 2007
Sunday, April 15, 2007
Berpisah Jua Kita Akhirnya
"Menyusur keramian sepanjang sisi kota.. Hanyut kita berdaua laju diatas roda.. Malam hangat memeluk melebur cinta kita.. Bias lampu menyapa getar hati bertanya... Adakah waktu tersisa menyanggah segala prasangka?
Dan lagu pun mengalun nanar kau pandang aku... Cinta kita terlarang membentur batu karang... Ketika norma peradatan terpilih sebagai alasan. Mereka ciptakan jurang antara kita..
Sampai akhir nanti.. Kita berusaha bertahan.. Sebab cinta datang untuk menolak perbedaan.. Oh adakah waktu tersisa menjaga kita tetap sejiwa?"
Syair lagu Katon Bagasakara mendayu-dayu di telinga Sheira. Ia baru saja menyelesaikan lipatan terakhir pakaian yang kini telah terkemas dalam sebuah koper besar berwarna merah. Sebuah tiket pesawat kelas ekonomi menuju Jakarta tergeletak tak beraturan di sisi kirinya. Sebentar lagi burung besi di luar sana akan segera membawa dirinya keluar dari peradaban kuno di pesisir Sumatera itu. Tepatnya di kota Deli, hiasan termashur wisata di Sumatera Bagian Utara.
Meski telah dirundung pahitnya berkasih sayang, Arqan, sang terkasih masih terus bermain di pikiran Sheira. Dicobanya mengusir bayangan itu. Sekali lagi gagal. Apa daya, ia hanya bisa tertunduk lesu memandangi pagi yang sebentar lagi pergi.
Ada tema besar yang menancap tegak di atas ubun-ubunnya saat ini. Apalagi kalau bukan perpisahan yang menyesakkan dada. Barangkali tidak akan begitu menyakitkan jika perpisahan ini barang satu atau dua tahun. Namun ini adalah perpisahannya saat berdiri di persimpangan di mana adat tidak lagi bisa dikompromikan. Selamanya ia harus pergi menjauh dari tambatan hati, demi tradisi pongah.
Aturan adat memang ada sejak Sheira belum terlahir ke dunia. Mungkin itu juga sebabnya ia hanya jadi penikmat aturan adat meski terkadang lakonnya tak jarang membosankan. Bahkan ketentuan adat itu bisa berwujud malaikat maut. Membunuh cinta setiap jiwa akan dunia.
Adat ternyata punya dalil dan hukumnya sendiri. Salah satu dalilnya yang membuat seisi dunia terperangah adalah memberi stempel pada percintaannya dengan Arqan sebagai kisah kasih cinta terlarang. Di antara mereka harus dibangun jurang yang dibuat menganga. Tak peduli ada benteng agama sebagai pelindung cinta keduanya. Jika sudah begitu, Sheira hanya berserah pada nasib. Ia makin tersudut saat ditakut-takuti dengan ancaman akan terus dilanda prahara jika tetap nekat meneruskan kisah cinta terlarang ini.
Pernah juga terpikirkan olehnya untuk melawan. Namun bekalnya belum cukup. Alasannya sederhana, sebab ia masih merasa "hijau". Jadilah Sheira kini seorang diri. Menyerah pada nasib menjadi satu-satunya pilihan terbaik buatnya.
"Arqan, berpisah jua kita akhirnya."
Dan lagu pun mengalun nanar kau pandang aku... Cinta kita terlarang membentur batu karang... Ketika norma peradatan terpilih sebagai alasan. Mereka ciptakan jurang antara kita..
Sampai akhir nanti.. Kita berusaha bertahan.. Sebab cinta datang untuk menolak perbedaan.. Oh adakah waktu tersisa menjaga kita tetap sejiwa?"
Syair lagu Katon Bagasakara mendayu-dayu di telinga Sheira. Ia baru saja menyelesaikan lipatan terakhir pakaian yang kini telah terkemas dalam sebuah koper besar berwarna merah. Sebuah tiket pesawat kelas ekonomi menuju Jakarta tergeletak tak beraturan di sisi kirinya. Sebentar lagi burung besi di luar sana akan segera membawa dirinya keluar dari peradaban kuno di pesisir Sumatera itu. Tepatnya di kota Deli, hiasan termashur wisata di Sumatera Bagian Utara.
Meski telah dirundung pahitnya berkasih sayang, Arqan, sang terkasih masih terus bermain di pikiran Sheira. Dicobanya mengusir bayangan itu. Sekali lagi gagal. Apa daya, ia hanya bisa tertunduk lesu memandangi pagi yang sebentar lagi pergi.
Ada tema besar yang menancap tegak di atas ubun-ubunnya saat ini. Apalagi kalau bukan perpisahan yang menyesakkan dada. Barangkali tidak akan begitu menyakitkan jika perpisahan ini barang satu atau dua tahun. Namun ini adalah perpisahannya saat berdiri di persimpangan di mana adat tidak lagi bisa dikompromikan. Selamanya ia harus pergi menjauh dari tambatan hati, demi tradisi pongah.
Aturan adat memang ada sejak Sheira belum terlahir ke dunia. Mungkin itu juga sebabnya ia hanya jadi penikmat aturan adat meski terkadang lakonnya tak jarang membosankan. Bahkan ketentuan adat itu bisa berwujud malaikat maut. Membunuh cinta setiap jiwa akan dunia.
Adat ternyata punya dalil dan hukumnya sendiri. Salah satu dalilnya yang membuat seisi dunia terperangah adalah memberi stempel pada percintaannya dengan Arqan sebagai kisah kasih cinta terlarang. Di antara mereka harus dibangun jurang yang dibuat menganga. Tak peduli ada benteng agama sebagai pelindung cinta keduanya. Jika sudah begitu, Sheira hanya berserah pada nasib. Ia makin tersudut saat ditakut-takuti dengan ancaman akan terus dilanda prahara jika tetap nekat meneruskan kisah cinta terlarang ini.
Pernah juga terpikirkan olehnya untuk melawan. Namun bekalnya belum cukup. Alasannya sederhana, sebab ia masih merasa "hijau". Jadilah Sheira kini seorang diri. Menyerah pada nasib menjadi satu-satunya pilihan terbaik buatnya.
"Arqan, berpisah jua kita akhirnya."
Friday, March 23, 2007
"Di Tepi Sungai Yarra Aku Menangis"
Kata teman saya Melbourne itu adalah kota harapan yang berkembang menjadi penderitaan. Betapa tidak, teman saya itu menemukan nilai kemanusiaannya di sini. Di samping itu ia juga memelihara sakit yang dibawanya dari kampung halamannya, di pesisir Sumatera. Teman saya itu sudah lama gundah akibat kepongahan nilai adat dan tradisi. Ia mencintai Baya, gadis pujaan hatinya. Namun sayang, dinding adat begitu kokoh melarang mereka menyemai cinta dan kasih sayang dalam satu persukuan. Perkawinan satu suku adalah larangan yang amat tabu untuk dilanggar. Tapi tetap saja ia gigih mempertahankan hati yang sudah tertambat."Cinta Terlarang?" "Penghianatan kaum muda atas nama Cinta?" "Kisah kasih anak durhaka?" Sulit memang memberi nama hubungan mereka. Saya pernah dimintai untuk menamai hubungan itu. Tapi saya menolak. Ketimbang membuat teman saya itu makin sedih dan larut dalam kegundahan, saya lebih memilih diam. Bisu tak bersuara. Berpuluh-puluh purnama sudah teman saya itu meninggalkan kampung halaman demi cintanya buat Baya, sang terkasih. Ia memilih pergi meninggalkan kepongahan adat dan tradisi. Tetua adat itu laksana badai dalam hubungannya. Untuk itulah ia diam, pergi demi menyiapkan bekal perlawanan. Sebuah pilihan yang sulit memang, tapi itu harus ditempuh.
"Aku mencintaimu."
"Tapi kau harus pergi."
"Kenapa aku?"
"Aku tidak bisa meninggalkan emak."
"Tapi aku juga tak bisa meninggalkanmu."
"Pergilah untuk sementara, hingga aturan adat ini terkikis bersama waktu."
"Kamu yakin?"
"Kenapa tidak?"
"Tapi, aku mencintaimu."
"Aku tahu. Tapi kau tetap harus pergi."
"Kau sudah rela?"
"Kalau disuruh memilih aku lebih suka kau di sini. Tapi, kau harus pergi mengumpulkan keberanian untuk melawan."
"Baiklah. Aku pergi dan untuk kembali lagi."
Percakapan itulah yang mengantarkan teman saya itu ke Melbourne. Baginya melawan bukan berarti harus hadap berhadapan. Jika diam dan pergi harus terpilih sebagai alasan kenapa tidak, katanya. Kalau diibaratkan pelarian politik, teman saya itu seperti tahanan politik yang memilih pergi ke luar negeri demi menunggu rezim yang berkuasa turun tahta. Nanti, setelah rezim berganti, barulah pulang merayakan kemenangan. Dengan jujur pula teman saya itu tidak menampik bila pilihan itu terkesan pengecut. Tapi begitulah hidup. Ia cuma soal bagaimana menentukan pilihan.
.jpg)
Sudah lima tahun ia tinggal di Melbourne. Teman saya itu menghabiskan hari, minggu, bulan dan tahun demi mengumpulkan amunisi. Setelah semuanya siap, barulah ia akan pulang, melawan kesewang-wenangan adat atas cinta dan kasih sayang anak manusia.
Suatu ketika saya berjumpa dengannya di Mumba Festival. Ia terlihat kurus sekali.
Suatu ketika saya berjumpa dengannya di Mumba Festival. Ia terlihat kurus sekali.
"Sudah berapa banyak amunisi terkumpul?"
"Tak tahulah saya."
"Lho, kenapa?"
"Semalam saya bicara dari hati ke hati dengan Baya."
"Terus?"
"Katanya ia sudah capek menunggu. Lima tahun memang bukan waktu yang singkat. Dan ia pantas untuk bosan."
"Kamu yakin ia jujur dengan sikapnya itu?"
"Sepertinya, ya."
"Lalu, apa ia sudah ada yang melamar?"
"Sepertinya, ya."
"Apa ia sudah menerima pinangan itu?"
"Saya tidak tahu. Tapi saya tahu ia sudah lama ditaksir oleh seorang anak kepala suku."
"Satu suku juga denganmu?"
"Tentu saja tidak."
"Terus, apa kamu juga sudah capek melawan?"
"Tentu saja tidak."
"Kamu tetap menyiapkan bekal buat perlawanan?"
"Sepertinya, ya."
"Lalu buat siapa? Bukankah Baya sudah pindah ke lain hati?"
Teman saya itu diam dengan pertanyaan saya barusan. Ia hanya tertunduk kemudian mendongakkan kepala.
"Aku melawan bukan buat Baya. Perlawananku ini aku persembahkan buat mereka yang cintanya tertawan akibat adat dan tradisi."
Saya pukul pelan pundaknya. Kemudian kami berpelukan sambil berbisik di telinganya.
"Daftarkan aku dalam barisan pasukanmu untuk bertempur melawan tetua adat dan tradisi itu, kawan."
“Welcome on board, mate”
Saya dan teman saya itu sepakat dan berkesimpulan bahwa sudah saatnya tetua adat itu disadarkan. Seperti penderita Autistik, tetua adat itu punya mata tapi tak melihat, punya telinga tapi tak mendengar.
Seperti juga teman saya itu, saya sebenarnya berjiwa pemberontak. Betapa tidak, saya lahir dan dibesarkan di luar Jawa, tempat hampir seluruh sejarah pemberontakan terjadi. Nama daerah saya dilahirkan mungkin punya hubungan dengan semangat pemberontakan dalam diri saya. Pulang Pisau. Sebuah kabupaten di Kalimantan Tengah yang tidak kesohor itu. Teman saya itu pernah bertanya kenapa Pulang Pisau menjadi nama kabupaten saya. Saya menggelengkan kepala. Tidak tahu.
“Sudah berapa lama kau merantau?”
“Hampir sama denganmu, enam tahun.”
“Suatu hari nanti aku ingin ke Pulang Pisau, daerahmu itu.”
“Dengan senang hati aku akan menemanimu.”
“Hm, Pulang Pisau, seperti inspirasi buatku.”
“Maksudmu?”
“Aku akan pulang memulai pemberontakan ini. Pulang dengan pisau.”
“Kau pasti bergurau.”
“Pisauku bukan sungguhan. Semangat pemberontakan itulah yang kumaksud.”
Sebulan berikutnya saya berjumpa lagi dengannya. Tapi saya membawa karangan bunga. Bunga kematian. Teman saya itu melanggar janjinya. Saya sedih. Teman saya itu tak pernah pulang. Ia malah memilih pulang ke kampung halamannya yang terakhir. Suatu senja ia ditemukan sudah tak bernyawa, tenggelam di sungai Yarra. Di sakunya ditemukan secarik kertas bertuliskan sebuah puisi. Demi menghormati teman saya itu saya tidak ingin menuliskan puisinya itu di sini. Cukup judulnya saja, saya kira itu sudah cukup. Puisi yang amat indah menurut saya. "Di Tepi Sungai Yarra Aku Menangis".
PS: Thanks to Mel, Arny dan mbak Win for your lovely friendship. Tak lupa buat udha Hendri yang lagi jenuh dengan Melbourne yang katanya kaku. Cerpen ini juga buat kalian dan mereka yang setuju kalau hidup itu cuma soal kapan tidur dan bangun lagi.
Pagi dan Seribu Senyum Buat Melbourne

Pagi dan Seribu Senyum Buat Melbourne
Source: Tabloid Buset April Edition 2007 (Melbourne)
Apakah kau belum mendengar perihal orang gila yang menyalakan lentera di pagi yang cemerlang, menyeruak ke pasar, dan berteriak tanpa henti, “Ku cari Tuhan! Ku cari Tuhan!”?
F. Nietzsche, Die Froliche Wissenschaft
F. Nietzsche, Die Froliche Wissenschaft
*****************************
Siang baru saja menjelang. Runsyam baru saja beranjak dari aktifitas rohani menuju duniawi sambil menunggang angin dingin musim panas benua Australia. Tinggal di kota seunik Melbourne memaksanya untuk juga menikmati ketidakakuran antara panas dan dingin. Di musim panas seperti ini ia tak bisa pongah untuk segera mengemasi koleksi pakaian winternya di sudut jauh. Runsyam meletakkannya di tempat biasa sebab suatu waktu di musim panas seperti ini, justeru alam menuntut setiap diri untuk dibalut pakaian hangat. Aneh, memang. Namun itulah Melbourne, kota yang sudah ia anggap sebagai kota mimpi.
Begitulah, pagi tadi ia sudah harus bangkit menjemput matahari. Runsyam sempat terlamun. Tanpa sengaja, sebuah perasaan asing hadir, begitu menyentuh. Ia berubah jadi begitu melankolis. Jika sudah begini, Runsyam biasanya menulis sesuatu buat ayahnya. Di samping ia tidak ingin kehilangan momen berharga ini, Runsyam juga punya satu maksud hati. Sederhana saja, cuma memaksa ayahnya untuk tahu diri. Alasannya hanya agar anggapan ayahnya bahwa ia sama sekali tidak romantis adalah keliru besar.
"Selamat Pagi, ayah."
Ku hormati engkau pagi ini sekali lagi dengan memanggilmu "ayah". Jika menurutmu itu belum cukup, aku akan memuaskanmu dengan kembali menuliskan panggilan buatmu diawali huruf besar. Mulai dari sekarang, dan tidak tahu hingga kapan akan bertahan seperti itu. Ya, A y a h. Sebuah kata tak berdengung dan sudah lama tak ku lafazkan. Aku bahkan nyaris lupa bagaimana rupamu sekarang. Jangan bilang dulu aku ini anak durhaka, tapi salahkan kenapa ribuan tahun lalu benua ini memisahkan diri dari elok paras negeri kita. Konon daratan negeri kita bertaut dengan bumi Australia. Buktinya ada banyak kemiripan di dalamnya terutama soal flora dan faunanya.
Pasti kau sudah bangun, aku tahu engkau adalah satu dari sekian juta umat manusia pecinta pagi. Pesanmu dulu bahwa menghabiskan pagi dengan secangkir kopi sama halnya dengan keinginan menggenggam dunia. Jika dulu aku tak begitu saja percaya celotehanmu, maka saat inilah aku sadari pesanmu itu ada benarnya juga. Melihat pagi adalah bentuk lain melihat hidup dari ruang hampa yang disediakan Tuhan.
Pagi ini di genggamanku ada kota yang dikemas dalam setumpuk surat kabar mingguan. Namanya City Weekly. Dan salah satu misiku pagiku ini adalah membuat penduduk kota menikmati suguhan baris demi baris berita kota dan secangkir kopi pagi ini. Demi menyukseskan misi mulia ini, pagi-pagi sekali anakmu telah berdiri manis di pojok bisu kota, pada pertemuan dua jalan besar.
Ayah, mungkin engkau tidak percaya. Pagi ini aku sudah tersenyum sebanyak seribu tujuh ratus dua puluh enam kali. Aku sampai capek dibuatnya. Mungkin kau heran kenapa aku bisa tersenyum sebanyak itu dan mampu pula menghitung jumlahnya.
Begini ayah, sebenarnya aku malas mem-filosofi-kan pagiku ini. Namun jiwa melankolisku berontak saat ku coba menepis keinginan mengabaikan pagi. Membagi-bagikan terbitan mingguan cuma-cuma inilah yang membuat aku tersenyum. Penghuni kota yang sering kau sebut bule itu ternyata lebih ramah ketimbang kita orang Timur. Bagaimana tidak, aku dihujani dengan kata tulus "thanks" plus satu senyuman segar saat ku ulurkan surat-surat kabar itu pada mereka. Senyuman-senyuman itulah yang memaksaku untuk juga ikut tersenyum. Walhasil, selain mendapat bayaran dari pekerjaan mulia ini, aku juga bisa ikut senam mulut. Tersenyum sepanjang pagi. Kau kan tahu manis atau tidak manisnya raut muka amat bergantun bagaimana kau menutup uara iblis dalam diri. Jangan pernah buka kesempatan untuk iblis-iblis itu atau kau tak akan pernah tersenyum. Orang-orang akan menyebutmu si Tuan Pencemberut. Kau boleh tak percaya, tapi coba kau perhatikan dua lambang ini. :) dan :( Jika kau mempersilahkanku memfilosofikan kode ini ini, maka jawabanku kira-kira begini. Dua titik yang diberi tanda kurung tutup adalah perlambang senyuman. Untuk itulah tadi aku ingatkan agar saat kau melihat pagi maka buka dua matamu dan tutup sisi iblismu. Perihal makna lambang kedua kau pasti tahu sendiri, kan?
Ayah, sepagi ini anakmu sudah ditempa alam, dibekali banyak pelajaran. Aku belajar dan semakin teryakinkan bahwa tersenyum di waktu pagi adalah bentuk lain dari ungkapan rasa syukur. Lihat saja bule-bule itu. Mereka bersyukur ku bagikan surat kabar mingguan. Sepertinya mereka menikmati keberadaanku hingga kemudian menghadiahiku ucapan terima kasih dan sejumput senyum manis. Tua dan muda. Si kaya dan si miskin. Semuanya sama.
Jujur harus ku akui jika tidak semua senyumku itu tulus. Sepersekian senyumku itu dibumbui oleh rasa kantuk, sinisme dan kemunafikan. Sewajarnya aku berkata demikian, sebab semalam anakmu ini menunggang fajar menyelesaikan sekian ribu kata, buah tangan dari tempatku kuliah. Meskipun senyumanku ada yang berkesan dipaksakan, toh mereka tetap tulus memberiku senyuman. Itu ku tahu dari mimik muka dan gerak bahasa tubuh. Tulus tanpa beban.
Begitulah, pagi tadi ia sudah harus bangkit menjemput matahari. Runsyam sempat terlamun. Tanpa sengaja, sebuah perasaan asing hadir, begitu menyentuh. Ia berubah jadi begitu melankolis. Jika sudah begini, Runsyam biasanya menulis sesuatu buat ayahnya. Di samping ia tidak ingin kehilangan momen berharga ini, Runsyam juga punya satu maksud hati. Sederhana saja, cuma memaksa ayahnya untuk tahu diri. Alasannya hanya agar anggapan ayahnya bahwa ia sama sekali tidak romantis adalah keliru besar.
"Selamat Pagi, ayah."
Ku hormati engkau pagi ini sekali lagi dengan memanggilmu "ayah". Jika menurutmu itu belum cukup, aku akan memuaskanmu dengan kembali menuliskan panggilan buatmu diawali huruf besar. Mulai dari sekarang, dan tidak tahu hingga kapan akan bertahan seperti itu. Ya, A y a h. Sebuah kata tak berdengung dan sudah lama tak ku lafazkan. Aku bahkan nyaris lupa bagaimana rupamu sekarang. Jangan bilang dulu aku ini anak durhaka, tapi salahkan kenapa ribuan tahun lalu benua ini memisahkan diri dari elok paras negeri kita. Konon daratan negeri kita bertaut dengan bumi Australia. Buktinya ada banyak kemiripan di dalamnya terutama soal flora dan faunanya.
Pasti kau sudah bangun, aku tahu engkau adalah satu dari sekian juta umat manusia pecinta pagi. Pesanmu dulu bahwa menghabiskan pagi dengan secangkir kopi sama halnya dengan keinginan menggenggam dunia. Jika dulu aku tak begitu saja percaya celotehanmu, maka saat inilah aku sadari pesanmu itu ada benarnya juga. Melihat pagi adalah bentuk lain melihat hidup dari ruang hampa yang disediakan Tuhan.
Pagi ini di genggamanku ada kota yang dikemas dalam setumpuk surat kabar mingguan. Namanya City Weekly. Dan salah satu misiku pagiku ini adalah membuat penduduk kota menikmati suguhan baris demi baris berita kota dan secangkir kopi pagi ini. Demi menyukseskan misi mulia ini, pagi-pagi sekali anakmu telah berdiri manis di pojok bisu kota, pada pertemuan dua jalan besar.
Ayah, mungkin engkau tidak percaya. Pagi ini aku sudah tersenyum sebanyak seribu tujuh ratus dua puluh enam kali. Aku sampai capek dibuatnya. Mungkin kau heran kenapa aku bisa tersenyum sebanyak itu dan mampu pula menghitung jumlahnya.
Begini ayah, sebenarnya aku malas mem-filosofi-kan pagiku ini. Namun jiwa melankolisku berontak saat ku coba menepis keinginan mengabaikan pagi. Membagi-bagikan terbitan mingguan cuma-cuma inilah yang membuat aku tersenyum. Penghuni kota yang sering kau sebut bule itu ternyata lebih ramah ketimbang kita orang Timur. Bagaimana tidak, aku dihujani dengan kata tulus "thanks" plus satu senyuman segar saat ku ulurkan surat-surat kabar itu pada mereka. Senyuman-senyuman itulah yang memaksaku untuk juga ikut tersenyum. Walhasil, selain mendapat bayaran dari pekerjaan mulia ini, aku juga bisa ikut senam mulut. Tersenyum sepanjang pagi. Kau kan tahu manis atau tidak manisnya raut muka amat bergantun bagaimana kau menutup uara iblis dalam diri. Jangan pernah buka kesempatan untuk iblis-iblis itu atau kau tak akan pernah tersenyum. Orang-orang akan menyebutmu si Tuan Pencemberut. Kau boleh tak percaya, tapi coba kau perhatikan dua lambang ini. :) dan :( Jika kau mempersilahkanku memfilosofikan kode ini ini, maka jawabanku kira-kira begini. Dua titik yang diberi tanda kurung tutup adalah perlambang senyuman. Untuk itulah tadi aku ingatkan agar saat kau melihat pagi maka buka dua matamu dan tutup sisi iblismu. Perihal makna lambang kedua kau pasti tahu sendiri, kan?
Ayah, sepagi ini anakmu sudah ditempa alam, dibekali banyak pelajaran. Aku belajar dan semakin teryakinkan bahwa tersenyum di waktu pagi adalah bentuk lain dari ungkapan rasa syukur. Lihat saja bule-bule itu. Mereka bersyukur ku bagikan surat kabar mingguan. Sepertinya mereka menikmati keberadaanku hingga kemudian menghadiahiku ucapan terima kasih dan sejumput senyum manis. Tua dan muda. Si kaya dan si miskin. Semuanya sama.
Jujur harus ku akui jika tidak semua senyumku itu tulus. Sepersekian senyumku itu dibumbui oleh rasa kantuk, sinisme dan kemunafikan. Sewajarnya aku berkata demikian, sebab semalam anakmu ini menunggang fajar menyelesaikan sekian ribu kata, buah tangan dari tempatku kuliah. Meskipun senyumanku ada yang berkesan dipaksakan, toh mereka tetap tulus memberiku senyuman. Itu ku tahu dari mimik muka dan gerak bahasa tubuh. Tulus tanpa beban.
Ayah yang disayang Tuhan. Selain pagi dan senyuman, ada satu hal lagi yang harus ku ceritakan pagi ini. Yakni kemurahan mengucapkan terima kasih. Kau 'kan tahu bawha pekerjaan membagi-bagikan koran gratis adalah satu dari sekian pekerjaan si miskin. Hina dina dan tanpa kehormatan. Oleh karenanya, pekerjanya layak untuk direndahkan dan didekonstrukis nilai kemanusiaannya. Semua tontonan menjijikkan itu sudah aku lihat dulu saat aku besar di Jakarta. Pedagang asongan, penjaja koran adalah pekerjaan orang pinggiran dan mereka juga harus dipinggirkan dengan hinaan. Tapi, tahukah kau bahwa itu tidak terjadi di sini. Hal bodoh itu tidak aku lihat di bumi di mana peran Tuhan sering mereka pinggirkan. Agama bukan isu penting. Yang terpenting adalah bagaimana menikmati hidup dengan sebebas-bebasnya seperti burung di bawah awan. Aku tidak tahu apakah ada hubungan ungkapan "terima kasih" dengan racikan ketulusan berbanding lurus dengan beragama atau tidaknya seseorang. Jika itu benar, maka kesimpulan itu tidak aku lihat di sini. Mereka begitu menghormati makna pemberian. Sebab dibalik ucapan terima kasih terselip penyerahan diri bahwa kita bergantung dengan keberadaan setiap jenis manusia. Kaya, miskin papa, tua dan muda.
Tanpa kusadari, aku telah menghitung senyumanku pagi ini. Hal konyol yang baru pertama kali ini aku lakukan. Aku puas tersenyum, disenyumi dan diberi ucapan terima kasih. Sebelum koran-koran itu habis, aku sudah berubah wujud jadi malaikat. Bagaimana tidak, sepagi in aku sudah diselimuti ketulusan dan keikhlasan untuk bersyukur. Aku laksana malaikat yang tinggal menunggu sayap untuk terbang menebar damai pada setiap pojok kota.
Selamat melihat matahari, Ayah.
Selamat melihat matahari, Ayah.
Runysam Alkampari
Sebuah panggilan telephone masuk memaksa Runsyam bangkit dan menyudahi surat ini. Untuk kesekian kalinya ia sungguh merasa sempurna menjadi manusia sekaligus anak dari seorang laki-laki.
Sebuah panggilan telephone masuk memaksa Runsyam bangkit dan menyudahi surat ini. Untuk kesekian kalinya ia sungguh merasa sempurna menjadi manusia sekaligus anak dari seorang laki-laki.
************
Melbourne, pagi-pagi sekali di bulan Februari.
Di salah satu sudut ruangan yang tidak jauh dari Melbourne Law School
Melbourne, pagi-pagi sekali di bulan Februari.
Di salah satu sudut ruangan yang tidak jauh dari Melbourne Law School
The University of Melbourne
Subscribe to:
Posts (Atom)