You can checkout any time you like,
But you can never leave! [Hotel California by Eagles]
Ini bukan hotel California dan bukan pula satu wilayah di semenanjung Amerika. Ini adalah Victoria yang di dalamnya Melbourne sudah terbungkus dengan aksesoris ragam peradaban. Dan kami, yang telah disusuinya dalam satu kurun waktu, harus terpaksa pergi meninggalkannya. Mampukah?
Sebentar, kawan. Ini bukan soal mampu atau tidak mampu. Tapi ini adalah perkara sebesar apa kemampuan kami meninggalkan kota ini. Sejauh mana nyali kami memilih untuk beranjak dari kota ini. Dan dalam pelbagai senandung tentang kemampuan dan nyali, lirik yang pertama kali sering disebut adalah tekad. Maka adakah tekad kami untuk bangkit, berdiri kemudian berlalu meninggalkan kota ini?
Tidak. Sekali-kali tidak, kawan.
Tidak. Sekali-kali tidak, kawan.
Seperti akhir lirik lagu Hotel California itu, kami bisa saja pergi dari kota ini kapan saja kami mau. Namun kami tak kan pernah bisa meninggalkannya.
Kami memang harus pergi. Beranjak namun untuk tidak meninggalkannya. Sebab Melbourne sudah terpahat dalam sejarah hidup kami sebagai "ibu" yang tegas dan terkadang juga manja. Tegas, hingga kami tumbuh menjadi manusia-manusia tahu diri. Manja, hingga ia melembutkan hati kami.
Bukannya kami tak bernyali, kawan, hanya saja kami belum puas mencicipi. Puluhan bulan purnama memang sudah kami jamah keindahannya. Ratusan hari memang sudah berlalu bersama pergantian musim. Panas. Dingin. Semuanya masih belum cukup membekali kemampuan dan tekad kami untuk benar-benar meninggalkannya.
Tidak. Sekali-kali tidak, kawan.
Tidak. Sekali-kali tidak, kawan.
Tidak. Sekali-kali tidak kawan.
Biarkan kami menikmati sisa-sisa hari agar nanti saat kami benar-benar beranjak pergi, paling tidak kami sudah dibekali banyak kenangan. Ingatan yang akan membawa kami, kembali ke kota. ini.
Jangan sebut kami keras kepala. Atau jangan pula katakan kami hendak bermelankolis ria.
Kali ini kami hanya ingin bernyanyi.
"You can checkout any time you like,
But you can never leave!" ... Du ..du.. du... du...du...
[Hotel California by Eagles]
Melbourne, 26 Juni 2007
M2
ps: Didedikasikan buat mereka yang sudah akan pergi meninggalkan Melbourne .
Thursday, June 28, 2007
Sunday, June 3, 2007
“Tentang Angin, Syal Cokelat dan Melbourne”
Melbourne bukan lagi sebuah peradaban dengan kenyamanan. Ia hanyalah bentuk lain dari perasaan campur aduk. Sedih dan senang. Kini Melbourne adalah....
"Bloody hell. Dasar cuaca sialan!!!." Sepagi ini saya sudah mengeluarkan sumpah serapah. Ini cuma soal pergantian cuaca. Hari ini saya menemui Melbourne dalam wujud yang sesungguhnya. Ya, perubahan cuacanya yang secepat kilat. Dan memang begitulah Melbourne. “Jangan hanya bergantung pada perkiraan cuaca, selalu siapkan kostum tiga musim setiap bepergian.” begitu pesan Mathew, salah seorang teman saya yang sudah lama tinggal dan besar di Melbourne.
Pagi tadi saat saya berjalan menuju pelataran kampus, langit begitu indah meski disudut timur masih ada segumpal awan hitam. Musim dingin memang sudah akan tiba, tapi hari ini sepertinya begitu cerah.
“What a beautiful day..” gumam saya dalam hati.
Segera saja saya memperlambat langkah kaki sembari menikmati indahnya hari.
Saya keliru. Hari ini Melbourne menyuguhkan ke hadapan saya betapa segala sesuatu dapat terjadi kapan dan di mana saja. Langit yang tadi terang berubah gelap. Awan kecil-kecil yang tadi beriak tiba-tiba bergumpal besar dan bergerak cepat. Angin sepoi-sepoi beberapa menit yang lalu tiba-tiba marah dan mengamuk, menyapu apa saja. Teman saya itu benar. Hari ini akan ada tiga musim.
Saya salah telah mengutuk cuaca. Saya khilaf sebab ada Tuhan di sana, sang Pencipta. "Rob... afwan wa atuubu ilaik.."
lenyapkan dirimu di hadapan Sang Wujud
agar ribuan dunia berlompatan darimu
dan wujud murnimu memancar dari dirinya sendiri
terus dan terus melahirkan bentuk-bentuk berlainan…
berbahagialah ia yang menyerahkan hidupnya demi mengetahui itu!
dia meninggalkan rumah ini demi rumah selanjutnya; yang jauh lebih bercahaya…
jika kau tak merasakan sakit, kau takkan mencari kesembuhan
jiwa yang tak hidup dalam Tuhan, tidaklah hidup..
(Sultan Walad, mistikus Islam)
To be continued........
(Cahaya di atas Cahaya)
more: click
"Bloody hell. Dasar cuaca sialan!!!." Sepagi ini saya sudah mengeluarkan sumpah serapah. Ini cuma soal pergantian cuaca. Hari ini saya menemui Melbourne dalam wujud yang sesungguhnya. Ya, perubahan cuacanya yang secepat kilat. Dan memang begitulah Melbourne. “Jangan hanya bergantung pada perkiraan cuaca, selalu siapkan kostum tiga musim setiap bepergian.” begitu pesan Mathew, salah seorang teman saya yang sudah lama tinggal dan besar di Melbourne.
Pagi tadi saat saya berjalan menuju pelataran kampus, langit begitu indah meski disudut timur masih ada segumpal awan hitam. Musim dingin memang sudah akan tiba, tapi hari ini sepertinya begitu cerah.
“What a beautiful day..” gumam saya dalam hati.
Segera saja saya memperlambat langkah kaki sembari menikmati indahnya hari.
Saya keliru. Hari ini Melbourne menyuguhkan ke hadapan saya betapa segala sesuatu dapat terjadi kapan dan di mana saja. Langit yang tadi terang berubah gelap. Awan kecil-kecil yang tadi beriak tiba-tiba bergumpal besar dan bergerak cepat. Angin sepoi-sepoi beberapa menit yang lalu tiba-tiba marah dan mengamuk, menyapu apa saja. Teman saya itu benar. Hari ini akan ada tiga musim.
Saya salah telah mengutuk cuaca. Saya khilaf sebab ada Tuhan di sana, sang Pencipta. "Rob... afwan wa atuubu ilaik.."
lenyapkan dirimu di hadapan Sang Wujud
agar ribuan dunia berlompatan darimu
dan wujud murnimu memancar dari dirinya sendiri
terus dan terus melahirkan bentuk-bentuk berlainan…
berbahagialah ia yang menyerahkan hidupnya demi mengetahui itu!
dia meninggalkan rumah ini demi rumah selanjutnya; yang jauh lebih bercahaya…
jika kau tak merasakan sakit, kau takkan mencari kesembuhan
jiwa yang tak hidup dalam Tuhan, tidaklah hidup..
(Sultan Walad, mistikus Islam)
To be continued........
(Cahaya di atas Cahaya)
more: click
Wednesday, April 25, 2007
"akhir segalanya"
Ini kalimat terakhir.
Kata-kata sudah habis..
Mari istirahat ke titik nadir...
Sampai bertemu sarang belibis....
--
Ini paragraf terakhir.
Kalimat-kalimat sudah lelah berbaris..
Mari pulang menguak tabir...
memungut senyum, membungkus tangis....
---
Ini sajak terakhir.
syair-syair sudah disulam..
Mari berkemas menjemput takdir...
Bertemu kita di simpang dalam....
----
Carlton, Vic. 25 April 2007
Kata-kata sudah habis..
Mari istirahat ke titik nadir...
Sampai bertemu sarang belibis....
--
Ini paragraf terakhir.
Kalimat-kalimat sudah lelah berbaris..
Mari pulang menguak tabir...
memungut senyum, membungkus tangis....
---
Ini sajak terakhir.
syair-syair sudah disulam..
Mari berkemas menjemput takdir...
Bertemu kita di simpang dalam....
----
Carlton, Vic. 25 April 2007
Sunday, April 15, 2007
Berpisah Jua Kita Akhirnya
"Menyusur keramian sepanjang sisi kota.. Hanyut kita berdaua laju diatas roda.. Malam hangat memeluk melebur cinta kita.. Bias lampu menyapa getar hati bertanya... Adakah waktu tersisa menyanggah segala prasangka?
Dan lagu pun mengalun nanar kau pandang aku... Cinta kita terlarang membentur batu karang... Ketika norma peradatan terpilih sebagai alasan. Mereka ciptakan jurang antara kita..
Sampai akhir nanti.. Kita berusaha bertahan.. Sebab cinta datang untuk menolak perbedaan.. Oh adakah waktu tersisa menjaga kita tetap sejiwa?"
Syair lagu Katon Bagasakara mendayu-dayu di telinga Sheira. Ia baru saja menyelesaikan lipatan terakhir pakaian yang kini telah terkemas dalam sebuah koper besar berwarna merah. Sebuah tiket pesawat kelas ekonomi menuju Jakarta tergeletak tak beraturan di sisi kirinya. Sebentar lagi burung besi di luar sana akan segera membawa dirinya keluar dari peradaban kuno di pesisir Sumatera itu. Tepatnya di kota Deli, hiasan termashur wisata di Sumatera Bagian Utara.
Meski telah dirundung pahitnya berkasih sayang, Arqan, sang terkasih masih terus bermain di pikiran Sheira. Dicobanya mengusir bayangan itu. Sekali lagi gagal. Apa daya, ia hanya bisa tertunduk lesu memandangi pagi yang sebentar lagi pergi.
Ada tema besar yang menancap tegak di atas ubun-ubunnya saat ini. Apalagi kalau bukan perpisahan yang menyesakkan dada. Barangkali tidak akan begitu menyakitkan jika perpisahan ini barang satu atau dua tahun. Namun ini adalah perpisahannya saat berdiri di persimpangan di mana adat tidak lagi bisa dikompromikan. Selamanya ia harus pergi menjauh dari tambatan hati, demi tradisi pongah.
Aturan adat memang ada sejak Sheira belum terlahir ke dunia. Mungkin itu juga sebabnya ia hanya jadi penikmat aturan adat meski terkadang lakonnya tak jarang membosankan. Bahkan ketentuan adat itu bisa berwujud malaikat maut. Membunuh cinta setiap jiwa akan dunia.
Adat ternyata punya dalil dan hukumnya sendiri. Salah satu dalilnya yang membuat seisi dunia terperangah adalah memberi stempel pada percintaannya dengan Arqan sebagai kisah kasih cinta terlarang. Di antara mereka harus dibangun jurang yang dibuat menganga. Tak peduli ada benteng agama sebagai pelindung cinta keduanya. Jika sudah begitu, Sheira hanya berserah pada nasib. Ia makin tersudut saat ditakut-takuti dengan ancaman akan terus dilanda prahara jika tetap nekat meneruskan kisah cinta terlarang ini.
Pernah juga terpikirkan olehnya untuk melawan. Namun bekalnya belum cukup. Alasannya sederhana, sebab ia masih merasa "hijau". Jadilah Sheira kini seorang diri. Menyerah pada nasib menjadi satu-satunya pilihan terbaik buatnya.
"Arqan, berpisah jua kita akhirnya."
Dan lagu pun mengalun nanar kau pandang aku... Cinta kita terlarang membentur batu karang... Ketika norma peradatan terpilih sebagai alasan. Mereka ciptakan jurang antara kita..
Sampai akhir nanti.. Kita berusaha bertahan.. Sebab cinta datang untuk menolak perbedaan.. Oh adakah waktu tersisa menjaga kita tetap sejiwa?"
Syair lagu Katon Bagasakara mendayu-dayu di telinga Sheira. Ia baru saja menyelesaikan lipatan terakhir pakaian yang kini telah terkemas dalam sebuah koper besar berwarna merah. Sebuah tiket pesawat kelas ekonomi menuju Jakarta tergeletak tak beraturan di sisi kirinya. Sebentar lagi burung besi di luar sana akan segera membawa dirinya keluar dari peradaban kuno di pesisir Sumatera itu. Tepatnya di kota Deli, hiasan termashur wisata di Sumatera Bagian Utara.
Meski telah dirundung pahitnya berkasih sayang, Arqan, sang terkasih masih terus bermain di pikiran Sheira. Dicobanya mengusir bayangan itu. Sekali lagi gagal. Apa daya, ia hanya bisa tertunduk lesu memandangi pagi yang sebentar lagi pergi.
Ada tema besar yang menancap tegak di atas ubun-ubunnya saat ini. Apalagi kalau bukan perpisahan yang menyesakkan dada. Barangkali tidak akan begitu menyakitkan jika perpisahan ini barang satu atau dua tahun. Namun ini adalah perpisahannya saat berdiri di persimpangan di mana adat tidak lagi bisa dikompromikan. Selamanya ia harus pergi menjauh dari tambatan hati, demi tradisi pongah.
Aturan adat memang ada sejak Sheira belum terlahir ke dunia. Mungkin itu juga sebabnya ia hanya jadi penikmat aturan adat meski terkadang lakonnya tak jarang membosankan. Bahkan ketentuan adat itu bisa berwujud malaikat maut. Membunuh cinta setiap jiwa akan dunia.
Adat ternyata punya dalil dan hukumnya sendiri. Salah satu dalilnya yang membuat seisi dunia terperangah adalah memberi stempel pada percintaannya dengan Arqan sebagai kisah kasih cinta terlarang. Di antara mereka harus dibangun jurang yang dibuat menganga. Tak peduli ada benteng agama sebagai pelindung cinta keduanya. Jika sudah begitu, Sheira hanya berserah pada nasib. Ia makin tersudut saat ditakut-takuti dengan ancaman akan terus dilanda prahara jika tetap nekat meneruskan kisah cinta terlarang ini.
Pernah juga terpikirkan olehnya untuk melawan. Namun bekalnya belum cukup. Alasannya sederhana, sebab ia masih merasa "hijau". Jadilah Sheira kini seorang diri. Menyerah pada nasib menjadi satu-satunya pilihan terbaik buatnya.
"Arqan, berpisah jua kita akhirnya."
Tuesday, April 10, 2007
Subscribe to:
Posts (Atom)