Sunday, March 8, 2009

[Sebutlah Namanya Nara]

Boleh aku minta satu permohonan padamu, sayang. bahwa aku mencintaimu itu iya. Tapi aku butuh seorang perempuan yang mencintaiku sama halnya seperti kau mencintaiku, itu juga iya. Lalu bolehkan aku mencari penggantimu, sayang? Kau tak boleh egois Dilara. Kau boleh punya pasangan, kenapa aku tidak? Kalau kau sudah punya seorang pasangan hidup, seharusnya aku juga begitu 'kan Dilara? Ayo dijawab sayang. Bukankah kau pernah bilang seandainya kau diberikan sepuluh persen saja kemampuan menulis seperti halnya aku, pasti sudah kau jawab semua tanyaku. Lalu sampai kapan sayang? Kau jangan bilang sampai aku harus menyerah menunggu jawabanmu? Kau sebenarnya mau atau malu? Apa kini ada dilema di hatimu, Dilara? Semoga Tuhan menyelamatkan kita dari sesat menjadi makhluk dilema ya sayang.

Love. Arqan Kamaruzzaman

Aku sakit hati padamu Dilara. Tanyaku kemarin belum juga terjawab. Kau tak pernah memberi sinyal apakah aku boleh mencari penggantimu atau tidak. Keegoisanmu itu sepertinya harus dibalas dengan satu keegoisan pula, ternyata. Dan aku harus melanjutkan perjalanan ini lantas berusaha menghapus jejakmu. Kemarin kampus tempat ku mengajar mendapat undangan ke Kyrgysztan demi menghadiri "Regional Constitutional Law Summit" selama dua minggu. Lantas aku dipilih menjadi salah satu delegasi kampus. Perjalanan ini bukan hanya sekedar perjalanan dinas bagiku, tapi juga perjalanan menghindari tekanan demi tekanan dalam hatiku. Sungguh, semua itu karenamu, Dilara. Dan perjalanan penuh pertualangan ini pun dimulai.

Tapi perjalanan ini lebih suka aku sebut perjalanan wisata. Di sela-sela acara, panitia menyiapkan sebuah kejutan bagi para tamu asingnya. Masing-masing delegasi diberi kesempatan tiga hari mengunjungi pelbagi kota di Kyrgysztan. Dan aku kebagian mengunjungi provinsi Jalal-Abad. Aku merasa beruntung sebab dari dulu memang penasaran dengan provinsi yang berkesan Islami tersebut. Oleh panitia, setiap delagasi didampingi seorang pemandu. Dan keberuntunganku lengkap sudah ketika seorang perempuan muda menghampiriku dan memperkenalkan dirinya dengan amat ramah.

Sebutlah namanya Nara. Ia memakai kerudung dan berbahasa Inggris, Kyrgystan serta bahasa Rusia dengan fasih. Di atas perahu nelayan yang menyusuri Sungai Naryn, ia berbisik, "Tak ada jejak Jengis Khan tersisa sedikit pun di sini." Sebagai turis asing aku hanya manggut-manggut saja. Perempuan itu terus melanjutkan kalimatnya. "Komunis pun telah lama mati." Aku maklum saja sebab perempuan seumuran Nara tumbuh sehabis kebesaran Unisoviet. Dan umumnya generasi itu kini memandang komunisme sebagai konstruksi yang wagu. Komunisme bagi gadis seperti Nara sepertinya hanya megah dari konsep tapi rapuh dalam keanggunan ketika diterapkan di lapangan.

Sebutlah namanya Nara, penduduk asli Kyrgystan. Umurnya baru 26 tahun. Di usia yang semuda itu ia telah melewati banyak tikungan sejarah. Ada cerita sejarah kebesaran Unisoviet di dalamnya dan hikayat kerajaan Mongol zaman baheula. Di usianya yang masih muda itu ia sudah menjadi seorang advokat, Dilara. Perempuan belia itu sudah aktif memimpin perjuangan hak-hak perempuan Kyrgystan. Nara, seorang perempuan muda nan rupawan yang mengajarkanku bahwa kematangan berpikir tidak selalu diukur dari jumlah umur.

Sebutlah namanya Nara. Matanya tidak sipit seperti kebanyakan penduduk lokal. Nara seperti campuran China (karena kulitnya yang putih bersih), Eropa (karena hidungnya yang bangir) dan Arab (karena postur tubuhnya yang tinggi). Dari tadi aku terus berdoa semoga perjalanan kami akan memakan waktu lebih lama sehingga aku bisa menikmati keelokan paras perempuan Asia ini.
Sebutlah namanya Nara. Di tahun 2005, pada umurnya yang baru menginjak 23 tahun, ia sudah menjadi tokoh penting pergerakan revolusi yang dikenal dengan Revolusi Tulip. Revolusi Tulip sendiri adalah revolusi tanpa kekerasan yang berhasil menjungkalkan Presiden Askar Akayev dari tampuk kepemimpinan. Dan sejak itu kaum perempuan menjadi salah satu tulang punggung medernisasi dan demokratisasi di Kyrgysztan.

"Namaku kata Baba terinspirasi dari nama sungai ini". Suaranya mantap. Ya, dari tadi kata-kata Nara bergelontoran seperti sungai Naryn yang meliuk sepanjang tak kurang dari 616 Kilometer membelah negeri Kyrgystan. Aku jadi lupa pada keelokan rupamu Dilara saat Nara mendekatkan wajahnya padaku. "Komunisme sudah tidak punya masa depan". Bisiknya lagi. Aku hanya mengangguk sambil memandangi deretan bangunan besar yang hampir semuanya berasal dari peninggalan kebesaran Unisoviet. "Suatu hari nanti Kyrgystan akan jadi Naga di kawasan Asia Tengah". Nara terus bercerita penuh semangat. "Tadinya saya ingin menyebut Kyrygystan akan menjadi Macan Asia tapi gelar itu sudah diambil Indonesia, bukan?." Katanya setengah bertanya. Aku hanya diam. Nara mengambil sesuatu dari tas kecil yang sejak tadi melilit di pinggangnya. Sebuah peta yang agak lusuh. "Coba perhatikan dengan detail peta Kyrgysztan ini. Bentuknya seperti kepala naga, bukan?" Aku mencopot kaca mata hitamku dan mendekatkan kepalaku pada peta itu. "Hm.. benar juga." Kataku setengah takjub. Padahal dalam hati sejujurnya aku perhatikan sekilas peta Kyrgysztan lebih mirip peta Pulau Bali ketimbang kepala naga. Tapi demi menyenangkan hati si tuan rumah aku terpaksa "sedikit" berbohong.

Sebutlah namanya Nara dan gadis itu masih terus melanjutkan ceritanya. Katanya sungai Naryn bisa sangat dingin di malam hari. Bahkan di musim dingin suhunya bisa mencapai minus 40 derajat celsius. "Saya lahir di di Provinsi Jalal-Abad, tapi kemudian pindah ke Bishkek untuk bersekolah." Menurut cerita Nara, iklim dan cuaca di Bishkek lebih baik ketimbang kota kelahirannya. Selain itu alasannya pindah juga karena ingin lebih dekat dengan ibu kota dan pusat peradaban Kyrgysztan.

Sebutlah namanya Nara. Kilau emas menjelang senja makin mengkilapkan paras cantiknya. Tak lama perahu motor yang kami sewa merapat pada sebuah pelabuhan kecil. Dan kami pun segera turun. Nara kemudian mengajakku singgah pada sebuah masjid yang cukup megah. Masjid itu berdiri kokoh menjadi latar kota Jalal-Abad. Aku harus berdecak kagum pada arsitekturnya yang elegan seperti halnya aku berdecak kagum pada rupa gadis muda bernama Nara ini. Di latar belakang masjid terlihat pegunungan yang sedikit diselimuti salju. Mendadak aku menggigil dalam dingin tapi Nara sepertinya biasa-biasa saja.

Kota kecil di Jalal-Abad itu amat tenang. Suasananya berbeda sekali dengan kota-kota besar Eropa yang pernah aku kunjungi. Aku jadi teringat apa yang ditulis Albert Camus suatu hari; "Kota-kota yang ditawarkan Eropa kepada kita terlampau sarat dengan berisik masa lampau." Dalam beberapa hal menurutku Nara juga tak jauh beda dengan Camus. Kedua-duanya sama-sama mengenggani sejarah. Ia harus berontak pada komunisme dan berkaca pada peradaban Amerika yang mengajarkan demokrasi dan Liberalisme.

Sebutlah namanya Nara dan masa lalu sudah lewat. Unisoviet kini tinggal cerita dalam buku-buku sejarah. Nara, begitu pula Camus, sudah membuatku terkesima. Dan setelah ku pikir-pikir, ada sebuah eulogia* yang harus ku sematkan pada masing-masing orang ini. Buat Camus aku harus angkat topi dengan kemashuran lukisan dan pemikirannya. Buat Nara aku harus mengagumi kecerdasan dan keelokan parasnya. Klop sudah! Namun bagaimana pun keduanya tetap berbeda. Jika Camus adalah peids-noir* tidak begitu halnya dengan Nara. Nara bukan gadis Eropa atau the outsiders yang lahir di tanah jajahan. Ia pribumi asli yang enggan dan muak pada sejarah masa lalu. Sedangkan Camus berdarah Perancis meskipun lahir dan besar di Aljazair, tanah jajahan Perancis. Selain itu bagiku Nara adalah sumber segala keeolokan seorang perempuan.

Aku pandangi Nara. Berkenankah ia menenteramkan gejolak hatiku? Maukah ia ku ketuk hatinya? Tapi tidak ada jawab dari tadi. Ia hanya menyodorkan sebuah kartu nama:

Bishkek Lawyers Office
Nara Rachmidinova
21-57, Kalyk Akiev Str.
Phone: +996 312 650016

Sebutlah Namanya Nara. Dan seorang laki-laki bisa secepat ini sudah jatuh hati padanya. Seorang laki-laki itu hanyalah tamu asing dari Indonesia yang sedang bergundah gulana. Gundah bisa jadi karena luka atau karena jatuh cinta sekejap mata. Laki-laki itu adalah aku Dilara. Lantas bila kau jadi aku mana yang akan kau pilih? Lukakah atau jatuh cinta?

Love, Arqan Kamaruzzaman


*Eulogia: perkataan yang berisi pujian
*Peids-noir: secara harfiah bermakna "Kaki Hitam". Sebutan orang Perancis pada warga kulit putih Perancis yang tinggal dan lahir di Aljazair.


Oleh:
Masnur Marzuki, SH, LLM
Alumnus Melbourne Law School
The University of Melbourne
Staf Edukatif pada Fakultas Hukum
Universitas Islam Indonesia

Tuesday, November 11, 2008

"Sebab itu Aku Menginginkanmu Dilara"

”Yang menangis adalah yang berpunya. Yang berpunya adalah yang kehilangan. Yang kehilangan adalah mereka yang ingin.” kata Ki Ageng Suryomentaram, seorang Pangeran Jogja, pada suatu masa saat ia meninggalkan istana. Nah Dilara, jika aku adalah yang berpunya maka yang aku punya buatmu hanyalah sebentuk CINTA, sayang. Dan itu untuk dulu, kini dan esok. Ya, Cinta dan hanya Cinta.

Kalau ku ingat-ingat lagi kata-kata Ki Ageng itu maka wajar jika aku menangis saat ini. Sebab yang menangis adalah yang berpunya. Dan yang aku punya hanya Cinta. Maka aku, yang berpunya Cinta itu, adalah yang kehilangan. Lalu aku, yang kehilangan Cinta, tak lain karena aku ingin. Aku menginginkan kau, Dilara. Dan semua karena Cinta.

Jangan pula kau berucap bahwa bisa apa kau nanti dengan Cintaku itu? Cinta memang tidak akan mengenyangkan laparmu. Cinta juga tidak akan menghapus haus dahagamu. Tapi Cintaku ini berbungkus ketulusan, sayang. Dan dengannya kau akan membuat kenyang lapar jiwamu dan mengikis habis dahaga jiwamu.

Maka wajar 'kan jika aku menangisi kehilanganmu? menangisi setiap jengkal kenangan kita? Sebab aku adalah yang berpunya Cinta dan akan segera kehilangan dan sebab itu aku menginginkanmu Dilara!



Arqan Kamaruzzaman, 02112008

Saturday, December 8, 2007

Kaki Langit Kota Cinta

Jika tuan berdiri di salah satu sudut kota itu, tuan akan tahu bagaimana pelbagai perbedaan menyeruak, lalu membentuk mozaik nan indah. Di situ tuan akan melihat orang yang serba hitam, yang putih, yang cokelat hingga kemerah-merahan. Semuanya terkumpul menjadi satu, memindai kota itu menjadi surga para pengembara. Di situ banyak pelabuhan, pantai dan anak sungai yang meliuk, pasar malam, hingga bandar yang ramai dengan pendatang.

Tuan tak perlu bingung jika di sepanjang perjalanan tuan menemukan sebuah tulisan yang terpahat rapi berupa prasasti. “Vires acquirit eundo”. Kami akan semakin kuat seiring perjalanan kami. Semboyan itulah yang tertanam di lubuk hati setiap jiwa penduduk kota. Di kalimat itu ada makna bersama dan khidmat. Bersama sebab Tuan tak mungkin hidup sendiri. Khidmat karena hidup akan terus berjalan, berdetak seiring waktu. Kenangan baik dan buruk sudah menggumpal menjadi asa. Di situ Tuan tidak akan seperti penambang yang memilah mana emas dan mana yang bukan. Semuanya harus dipungut untuk dibungkus jadi pelajaran. Sebab hidup tentu akan makin berarti dengan mencari.

Begitu juga ketika tuan menjumpai banyak patung di kota itu. Jangan dulu takjub ataupun bersyak sangka. Patung-patung itu bukan sesembahan melainkan sejarah yang sedang bertutur dengan sahaja. Maukah tuan ditunjukkan sebuah patung berwujud seorang pejuang kemanusiaan? Jika tuan sempat berkunjung Queen Victoria Park, di situ tuan akan berjumpa dengan seorang pahlawan kemanusiaan yang rendah hati. Konon, ia enggan di sebut pahlawan sebab ia meyakini bahwa dirinya hanyalah satu dari sekian ribu orang pejuang kemanusian di zaman perang.

Lalu tahukah tuan bagaimana kota itu dihidupkan? Seperti banyak kota di dunia, kota itu dihidupkan oleh kematian para pahlawannya. Mereka tak mati sia-sia tapi penuh makna. Selain itu, tahukah tuan apa sebenarnya yang paling menghidupkan kota itu? Cinta. Ya, cinta pada sesama. Bukan saja sesama manusia tapi sesama ciptaan-Nya. Jika tuan sempatkan diri menghabiskan pagi di sebuah taman, maka akan banyak yang tersenyum. Tak hanya mereka penduduk tempatan, tapi juga dari pendatang seperti tuan. Tak hanya dari kembang taman, tapi juga burung-burung camar yang bernyanyi tiada henti.

Maka bathin tuan pasti tersentak jika mendengarkan seorang pecinta suatu ketika bertutur seperti ini; hanya ada satu kalimat yang paling tepat menggambarkan kota ini: the lovely city where I found my love. Jika sudah begitu, bisakah tuan mencari padanan kata lainnya selain kata mengharu biru?

Di tepi jalan yang meriah di kota itu, di dekat trotoar tak jauh dari sebuah bulevar, tuan akan merasa seperti tinggal di surga. Segalanya ada, tinggal minta. Maka ketika tuan harus melangkah pergi meninggalkan kota itu, bisakah tuan menyegerakannya? Bukankah tuan harus cepat-cepat menampiknya? Percayalah tuan, kota itu hendak bermetamorfosa menjadi prasasti hidup bagi yang hidup di dalamnya. Kaki, tangan dan jiwa Tuan akan ikut terpaku bersamanya.

Jika kota itu semisal sosok ibu, ia masih cekatan sekali. Bahkan dalam tidurnya pun ia masih sempat menyusui para pecinta malam. Pun dalam terlelapnya, ia masih bisa memandu para pengembara tentang bagaimana memahat hari untuk besok pagi. Lebih dari itu, ia masih paiwai menyulap letupan-letupan besar dan kecil dalam hidup untuk kemudian berwujud kenangan manis. Dan kini, saat harus terucap sebuah kalimat pada kota itu “Selamat tinggal kota, aku harus pergi untuk tak kembali”, maka mata mana yang tak akan basah? Bisakah tuan pilihkan kata-kata yang paling tepat menggambarkan pilu hati sebab perpisahan?

Percayalah Tuan. Sulit hendak memberi nama perasaan saat tuan harus mengemas koper untuk beranjak pergi dari kota itu. Akan tampak jelas ada paralisis yang bertaut erat satu sama lain; lumpuh sebab tak mampu menanggung pahit getir perpisahan dan lumpuh karena tak kuasa mencari alasan kenapa harus diakhiri dengan perpisahan.
Saat Tuan sudah tak berdaya menahan isak tangis perpisahan, saat dada sesak menghitung berapa langkah lagi yang tersisa, pergilah ke pelabuhan. Di situ Tuan bisa menangis sejadi-jadinya. Debur ombak dan kilau cahaya senja akan mengantarkan pesan perpisahan Tuan pada kota itu. Menangislah, sebab kota ini tak pernah menangis.

Tuan pasti sudah tak sabar kota manakah yang dimaksud hikayat ini. Itulah kota Melbourne Tuan, kota cinta di mana Tuhan mempertemukan saya dengan cinta.

Masnur Marzuki
Alumnus Melbourne Law School
Pada Program Master of Laws The University of Melbourne.

Friday, November 2, 2007

Bulan Jatuh Kemana Malam Ini, Dilara?

Kaku, aku duduk di kursi pesakitan pesawat berbadan lebar ini, Dilara. Kau tahu 'kan aku paling benci ketinggian. Meski di ufuk barat sana kuas senja menggoreskan warna merah keemasan, pemandangan indah itu tak jua membuatku tenang. Tetap saja aku gugup. Kaku seperti salju. Aku beranikan diri terbang berjam-jam lamanya. Ini semua karena pilihanku untuk berbelah-pihak pada hasrat hati yang ingin segera menyudahi satu resah. Ya, semuanya tentang rindu dan itu buatmu Dilara.

Senja makin mengapung pada bibir awan yang menghampar. Saat itulah aku aku melihat bulan yang hendak jatuh. Jatuh kemana ia malam ini Dilara? Jikalau ia jatuh di dekatmu, seharusnya ia membawa hikayat tentang bujang kota yang merana karena rindu. Atau paling tidak bulan itu mengabarkan tentang mimpi yang hendak ku kejar bersamamu. Terngiang olehku petuah bunda suatu hari; "Meminjam memulangkan, menjemput mengantarkan". Dulu pernah kau pinjamkan rindu itu, nah kini aku bermaksud datang untuk memulangkannya. Dulu pula, cintamu pernah ku jemput, hmm.. tapi tak hendak aku mengantarkannya. Biarkan ia memaku diri di sini, bersemayam dalam indah mimpi kita, Dilara.

Bulan itu jatuh kemana malam ini Dilara? Kalau ia jatuh di dekatmu, sudah sepantasnya ia berbagi cerita tentang penat menyudahi kembara ini. Aku lelah. Ingin segera dekat-dekat denganmu. Kau tahu jatuh kemana bulan itu Dilara? Dan kalau pun ia jatuh saat kau terlelap, bias cahayanya akan menerangkan mimpimu menuju aku. Mari berbaringlah di dekatku, Dilara. Kau tahu 'kan aku sedang di mana. Ya, aku bersemayam di sebuah negeri di atas awan. Dari sini bulan itu hendak jatuh ke hariban. Indah, seperti elok rupamu.

Jatuh kemana bulan itu malam ini Dilara? Cepat-cepatlah kau terbangun agar kau bisa membaca pesan yang ku titipkan padanya. Bersandarlah padanya. Lalu di situ akan ada aku yang hanya memulangkan rindu dan hendak mengantarkan cinta yang terseduh sejak lama. Aku cinta kau, Dilara.

Kemana bulan itu jatuh Dilara? Andai ia bertali akan ku sodorkan padamu sumbunya agar dapat kau tembatkan ia hingga saat aku tiba nanti. Dan kita bisa melihatnya bersama. Kau benar Dilara; Jika berkaca pada rindu maka hari-harimu begitu singkat. Seperti terhukum menghitung detik nadi di tiang gantungan. Mataku mulai basah, Dilara. Melihat bulan yang hendak jatuh. Semoga kau melihatnya dalam cinta.



Di atas langit, 29 Oktober 2007.

Arqan Kamaruzzaman.

Friday, September 7, 2007

Gerhana Cinta Bujang Kota [Catatan Perjalanan]

Tahukah kau Dilara satu penyakit saat waktu terasa begitu lama sekali. Aku mendadak bosan di kota ini, ingin cepat-cepat keluar menuju Melbourne tempat di mana mimpi bertemu kau bisa ku pijar.

Aikh.. Aku sedang merindu?
Entahlah Dilara. Aku tak tahu hendak ku beri nama apa perasaan ku ini. Tapi yang pasti berjauh-jauhan seperti ini saat keinginan untuk bersua membuncah sungguh tidak enak, Dilara. Seperti penyakit, ia minta disembuhkan. Kau mau kesini sebentar jadi juru rawatnya 'kan Dilara?

Aku juga sedang sakit hati sebab cinta yang kemarin kau ucap belum sempat aku jawab. Kini aku masih di Paris Dilara, tapi justeru di kota cinta ini cintaku tertahan dinding jarak dan ketidaktahuanku tentang adamu.

Kau pasti ingat tulisan yang tempo hari kau kirimkan lewat surat kabar itu;

"I love to love you Arqan, and I don’t care who knows it. I hope to see you in Melbourne."
Dilara Aydin, some where in Turkey.

Berpesanlah ibu kalau berkata
rendah suara jangan meninggi
hati orang perlu dijaga
Jangan sampai tersinggung rasa sampai ke mati

Suara hatimu itu tidak rendah dan tidak pula tinggi Dilara, tapi sungguh itulah yang membuat aku tersinggung. Sebab aku belum sempat memberi tanda.

Catatan Perjalananku ini mungkin tak kan sempat engkau baca tapi cukuplah ia jadi saksi bahwa aku juga cinta kau Dilara.

Tahukah kau jika cintaku umpama minyak yang penuh di bejana, sedikit lagi akan melimpah. Tapi kenapa kau masih bersembunyi tanpa jejak, Dilara. Bila begini, jangan kau salahkan nanti bila bunga cinta tak mau tumbuh. Kiranya hati yang tak menerima.

Lama-lama aku jadi tersadar bahwa dalam beberapa hal kau amat mirip dengan Lara-ku Dilara. Kau angkuh dengan hatimu juga cintamu.
Mau kau apakan hatimu itu Dilara? Berucap cinta dari jauh kemudian cepat-cepat mengemas barang dan meninggalkan aku di sini sendiri. Kau jahat. Sungguh jahat.

Kilauan cinta yang suci yang dulu kau ucapkan..
kini gerhana..
Dan aku amat benci bila kau berkata:

saat bulan jatuh ke riba dan aku pun tiada ..
Usahlah ditangiskan kehilangan..

Aku tak pernah sekalipun menangisi kehilangan ini. Toh aku sadar ini hanya kehilangan sementara, tidak seperti saat dulu aku kehilangan Baya dan Lara. Aku kehilangan selamanya.

Cinta buatmu ini Dilara, tak 'kan sama dengan cinta buat Baya dan Lara. Tak ada yang hendak menyamakan masa lalu dan masa kini. begitu juga cinta dan sayangku.Setelah sekian lama aku mencari kemana hilang sisi hatiku yang menggelosoh minta di isi, aku bertemu kau. Dan kau berucap cinta dari jauh. Maka salahkah aku jika menganggap merindumu adalah tugas wajib yang mesti ku tuntaskan?

Rindu serindu-rindunya buatmu di sana, "somewhere in Turkey".

Benarkah kau di Turki?

Entahlah.

Yang pasti, cinta dan rinduku ini sudah menggerhana.


Paris, saat senja mendadak datang minta dijenguk.

Arqan Kamaruzzaman.

===

M2
Carlton, 050907 [saat rindu membuncah dan kau hening tanpa suara tenggelam dalam hiruk pikuk dunia]